
‘Table Top Red Marking’, Upaya India Menekan Kecelakaan Lalu Lintas
Jalan dilapisi dengan thermoplastic merah setebal lima milimeter. Pengemudi akan merasakan getaran ringan sekaligus perubahan suara dari ban.
INDIA, Improvement – Beragam upaya dilakukan guna menekan kasus kecelakaan di jalan raya. Salah satunya adalah “table top red marking” yang dikembangkan di India.
Jalan berwarna merah terang ini dibangun di kawasan hutan lindung Veerangana Durgavati Tiger Reserve, Madhya Pradesh. Tepatnya di ruas National Highway 45.
Kawasan ini dijadikan proyek percontohan dikarenakan tingkat kecelakaan antara pengemudi dan satwa, kerap terjadi.
Proyek ini jadi yang pertama di India yang memanfaatkan efek visual dan sensasi berkendara untuk memengaruhi perilaku pengemudi.
Melansir Indian Defence Review (IDR), Kamis (16/4/2026), Otoritas Jalan Nasional India atau National Highways Authority of India (NHAI) melapisi jalan sepanjang dua kilometer dengan thermoplastic merah setebal 5 milimeter.
Lapisan tersebut bukan hanya mencolok secara tampilan. Saat kendaraan melintas, pengemudi akan merasakan getaran ringan sekaligus perubahan suara dari ban.
Efek ini memang tidak sekeras polisi tidur, namun cukup untuk memicu pengemudi mengurangi kecepatan.
NHAI menyebut konsep ini sebagai “table top red marking” pertama di jalan nasional India. Konsep jalan ini terinspirasi dari praktik di Dubai serta berbagai penelitian terkait pengendalian kecepatan di kawasan sensitif secara ekologis.
Zona merah ini ditempatkan di titik rawan sepanjang dua kilometer, yaitu area di mana kondisi jalan beririsan dengan jalur pergerakan satwa liar.
Underpass Khusus Satwa
Dilansir dari laman grid.oto, inovasi ini juga didukung fasilitas lain. Dalam proyek jalan sepanjang 11,96 kilometer yang melintasi hutan, dibangun 25 terowongan bawah jalan (underpass) khusus satwa. Lokasinya disesuaikan dengan jalur lintasan hewan yang telah dipetakan sebelumnya.
Desain underpass dibuat menyatu dengan kontur tanah dan aliran air agar terasa alami bagi satwa.
Selain itu, pagar kawat (chain-link fencing) dipasang di sepanjang jalan untuk mencegah hewan masuk ke badan jalan sekaligus mengarahkan mereka ke jalur penyeberangan yang lebih aman.
Kamera pemantau juga dipasang guna memastikan satwa benar-benar memanfaatkan underpass tersebut. Sementara lampu tenaga surya digunakan di beberapa titik untuk meningkatkan visibilitas tanpa merusak lingkungan.
Langkah ini didukung berbagai penelitian global yang menunjukkan bahwa tabrakan antara kendaraan dan satwa liar merupakan masalah serius.
Studi menyebutkan kombinasi pagar dan jalur penyeberangan mampu menurunkan angka kecelakaan hingga sekitar 83 persen. Sebaliknya, penggunaan pagar saja hanya mengurangi sekitar 54 persen, sedangkan jalur penyeberangan tanpa pagar dinilai hampir tidak efektif.
Panjang pagar juga berpengaruh, di mana pagar di bawah 5 kilometer kurang konsisten, sementara yang lebih panjang cenderung lebih optimal.
Ramah Lingkungan
Salah satu keunggulan jalan merah ini adalah dampaknya yang relatif kecil terhadap lingkungan.
Lapisan thermoplastic tidak mengubah struktur jalan maupun sistem drainase, menghasilkan kebisingan lebih rendah dibandingkan polisi tidur, serta mudah diperbaiki atau dihapus jika diperlukan.
Hal ini menjadikan proyek tersebut sebagai uji coba atau pilot project yang berpotensi diterapkan di wilayah lain, terutama jalan yang melintasi habitat satwa. Langkah India ini sejalan dengan tren global dalam pembangunan infrastruktur ramah lingkungan.
Negara lain seperti Chile juga mulai menerapkan pendekatan serupa. Pada 2026, pemerintah Chile merencanakan pembangunan jalan sepanjang 126 kilometer di Pulau Chiloé yang dilengkapi tujuh koridor ekologis khusus satwa liar.
Keberhasilan proyek jalan merah ini nantinya akan diukur dari beberapa indikator. Misalnya penurunan kecepatan kendaraan, berkurangnya kecelakaan dengan satwa, serta tingkat penggunaan underpass oleh hewan.
NHAI menegaskan bahwa pendekatan ini merupakan upaya untuk menyeimbangkan kebutuhan manusia, keselamatan lalu lintas, dan pelindungan ekosistem. Terutama di tengah semakin luasnya pembangunan jalan yang melintasi habitat alami.
Jika terbukti efektif, konsep jalan yang “berkomunikasi dengan pengemudi” ini berpotensi menjadi standar baru di kawasan sensitif di masa depan. (Hasanuddin)



