EventNewsSustainability

Prof Hanifa: Perempuan Pekerja Acap Hadapi Tantangan Kompleks

Perempuan pekerja sering menghadapi tantangan yang kompleks seperti paparan risiko kerja, tekanan psikologis, serta tanggung jawab domestik yang tetap melekat.

JAKARTA, Improvement – Hari ini, 147 tahun lalu, seorang bayi perempuan lahir di kota Jepara, Jawa Tengah. Ia diberinama Raden Ajeng Kartini, puteri dari pasangan Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat (Bupati Jepara) dan MA Ngasirah.

Kelak di kemudian hari, bayi perempuan itu mengubah wajah Indonesia dengan pemikiran-pemikirannya, meski sebatas surat menyurat. Berbagai persoalan keseharian wanita (Jawa) ia tumpahkan melalui pena, yang kelak dikenal dengan nama emansipasi wanita.

Kartini merasa heran, mengapa wanita pribumi tidak mendapatkan hak yang sama dengan laki-laki, utamanya di bidang pendidikan. Pemberontakan hati Kartini kemudian dirangkum dalam buku bertajuk “Habis Gelap Terbitlah Terang.”

Pada 2 Mei 1964, Pemerintah melalui Keputusan Presiden RI No 108 menetapkan RA Kartini sebagai pahlawan Nasional. Sekaligus menetapkan tanggal 21 April sebagai Hari Kartini.

Lantas, apa makna Hari Kartini bagi Prof. Hanifa M. Denny, SKM, MPH, Ph.D.?

“Hari Kartini bagi saya bukan sekadar peringatan historis. Tetapi momentum refleksi tentang perjuangan panjang perempuan dalam memeroleh hak yang setara—terutama dalam pendidikan, pekerjaan, dan kesehatan,” kata Prof. Hanifa.

Kartini, katanya, telah membuka jalan bagi perempuan Indonesia untuk berdaya. Namun, dalam konteks saat ini, perjuangan tersebut harus dilanjutkan dengan memastikan bahwa perempuan tidak hanya hadir di ruang publik, tetapi juga sehat, terlindungi, dan sejahtera dalam menjalankan perannya.

Pemberdayaan perempuan harus mencakup keseimbangan antara pekerjaan, kehidupan, dan kesehatan agar perempuan dapat mencapai potensi maksimalnya secara utuh.

Tantangan Emansipasi Wanita Saat Ini

Dalam kacamata Guru Besar FKM Universitas Diponegoro ini, emansipasi perempuan di Indonesia telah menunjukkan kemajuan yang signifikan. Perempuan kini berkontribusi di berbagai sektor, termasuk bidang akademik, kesehatan, industri, dan kepemimpinan.

Namun demikian, realitas di lapangan menunjukkan bahwa perempuan masih menghadapi tantangan. Misalnya ketimpangan peluang, diskriminasi upah, serta keterbatasan akses terhadap pelindungan kesehatan kerja .

“Oleh karena itu, emansipasi hari ini harus dimaknai tidak hanya sebagai kesetaraan akses tetapi juga kesetaraan dalam pelindungan, kesejahteraan, dan kualitas hidup perempuan,” kata Prof Hanifa.

Di bidang kesehatan kerja dan kesehatan masyarakat, perempuan memiliki peran yang sangat strategis—baik sebagai tenaga kerja, penggerak keluarga, maupun agen perubahan di masyarakat.

Namun, perempuan pekerja sering menghadapi tantangan yang kompleks, termasuk paparan risiko kerja, tekanan psikologis, serta tanggung jawab domestik yang tetap melekat.

“Melalui penelitian dan pengabdian saya, saya berupaya mendorong terciptanya sistem kerja yang lebih sehat, inklusif, dan responsif terhadap kebutuhan perempuan. Harapannya, agar mereka dapat bekerja secara produktif tanpa mengorbankan kesehatan dan kehidupan pribadinya,” katanya.

Mitigasi Tantangan

Dikatakan, tantangan terbesar perempuan saat ini adalah beban ganda bahkan triple burden—sebagai pekerja, ibu, dan anggota masyarakat.

Kondisi ini sering berdampak pada kesehatan fisik dan mental, termasuk stres, gangguan reproduksi, dan kelelahan kronis .

Mitigasinya harus dilakukan secara komprehensif, antara lain:

  1. Penguatan kebijakan kesehatan kerja berbasis gender
  2. Penyediaan lingkungan kerja yang mendukung (fleksibilitas kerja, fasilitas kesehatan)
  3. Peningkatan literasi kesehatan dan dukungan mental
  4. Kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, akademisi, dan industri

“Pendekatan ini penting untuk memastikan perempuan tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang secara optimal,” ujarnya.

Arti Keluarga

Bagi Hanifa, keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga bukanlah sesuatu yang statis, melainkan proses dinamis yang terus disesuaikan.

“Keluarga adalah fondasi utama, tempat saya memperoleh energi, dukungan emosional, dan makna kehidupan.  Sejalan dengan konsep dalam buku saya, keseimbangan antara kehidupan, pekerjaan, dan kesehatan memerlukan resiliensi pribadi dan dukungan lingkungan,” kata Prof Hanifa.

“Saya meyakini bahwa perempuan dapat berperan optimal di berbagai bidang tanpa kehilangan jati dirinya, selama ada keseimbangan, dukungan, dan sistem yang berpihak. Selamat memberdayakan, mengisi dan memberi makna Hari Kartini 2026,” pungkasnya. (Hasanuddin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button