EventQHSSESustainability

Shell Indonesia: Safety Terintegrasi dalam Setiap Operasi

Aspek keselamatan (K3) telah menjadi KPI dan melekat pada setiap departemen.

JAKARTA, Improvement – Dalam jagat industri perminyakan Indonesia, Shell bukanlah nama baru. Perusahaan energi dan petrokimia multinasional asal Inggris-Belanda ini justru menjadi pionir dalam industri minyak di Indonesia.

Ia sudah hadir sejak tahun 1885 ketika Aeilko Jans Zijker, warga Belanda, menemukan minyak di Telaga Tunggal, Pangkalan Brandan, Sumatera Utara. Aeilko kemudian mendirikan perusahaan Royal Dutch Petroleum Company pada 1890.

Pada 1907 berganti nama menjadi Royal Dutch Shell, setelah menggandeng “Shell” Transport and Trading Company Ltd dari Inggris. Shell kini beroperasi di 70 negara di dunia dengan 94.000 karyawan.

Di Indonesia, sejak 2005, Shell mengoperasikan sekitar 200 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang tersebar di seluruh Indonesia. Mulai dari Aceh di ujung barat hingga Papua di ujung timur Indonesia.

“Indonesia telah memegang peran penting dalam sejarah Shell,”  kata Ingrid Siburian, GM Mobility PT Shell Indonesia, saat menjadi pemateri dalam acara CEO Talk WISCA 2026 di Jakarta.

Untuk itu, Shell berharap dapat terus mendorong kemajuan negara dengan berperan aktif sebagai penggerak energi nasional dan berkontribusi pada pembangunan negara.

“Shell menjadi perusahaan yang tidak hanya hadir, tetapi juga didukung oleh rakyat, untuk rakyat, dan menjadi bagian integral dari Indonesia,” kata Ingrid.

Shell adalah perusahaan energi terintegrasi yang berkomitmen untuk memenuhi peningkatan permintaan energi global melalui cara yang bertanggung jawab secara ekonomi, lingkungan, dan sosial.

Beroperasi Lebih 100 Tahun

Saat ini Shell beroperasi di 5 wilayah dan 32 negara. Selama lebih dari 100 tahun, Shell telah menjadi jantung sistem energi global dan menghubungkan energi dan manusia.

“Visi kami untuk dekade berikutnya adalah menjadi perusahaan energi terintegrasi terkemuka di dunia, memberikan dampak dalam skala besar, menghubungkan energi dan manusia, serta mencocokkan pasokan dengan permintaan,” katanya.

Di Indonesia, Shell berfokus pada produksi minyak pelumas, dengan beragam produk. Shell bahkan telah memroduksi berbagai produk minyak pelumas non-karbon, dalam upayanya mencapai net-zero emissions pada 2050.

kata Ingrid Siburian, GM Mobility PT Shell Indonesia (kedua dari kiri) saat menerima penghargaan Platinum dari Chairman WSO Indonesia Soehatman Ramli (paling kiri) dalam ajang WISCA 2026 di Jakarta. (Foto: Istimewa)

Produk minyak pelumas Shell melayani berbagai kebutuhan sektor industri. Mulai dari sepeda motor, mobil, truk, pelabuhan, agrikultur, pertambangan, konstruksi, pembangkit tenaga listrik, dan manufaktur.

Desa Bersemi

Dikatakan, salah satu wujud nyata Shell dalam upaya memajukan perekonomian rakyat Indonesia dilakukan dalam program Desa Bersemi.

Desa Bersemi (Bersih, Sehat, dan Mandiri) adalah salah satu program unggulan Shell dalam upaya mendukung program pemerintah menuju nihil emisi di tahun 2050.

“Desa Bersemi merupakan inisiatif pengelolaan sampah terpadu berbasis komunitas yang diprakarsai oleh Shell Indonesia di dua desa yang berbatasan dengan Pabrik Pelumas Shell (Shell LOBP) yaitu di desa Pantai Makmur dan Segara Makmur,” katanya.

Program Desa Bersemi berfokus pada pengembangan perilaku hidup bersih dan sehat dengan prinsip ekonomi sirkular. Yaitu mengurangi, menggunakan kembali dan mendaur ulang sampah untuk meminimalisir dampak terhadap lingkungan.

Kegiatan program Desa Bersemi meliputi rumah kompos, kawasan rumah pangan lestari, industri kreatif, dan bank sampah.

Program ini telah berhasil memberdayakan komunitas di desa Pantai Makmur dan Segara Makmur untuk terampil mengolah sampah, baik organik maupun anorganik, menjadi produk yang bernilai ekonomis.

“Program Desa Bersemi telah berjalan sejak tahun 2016 dan telah berhasil memberi manfaat bagi sekitar 600 keluarga dan melatih 70 kader yang siap untuk mengembangkan program serupa ke desa-desa lain di sekitarnya,” Ingrid menegaskan.

Safety Terintegrasi

Dalam operasionalnya, Shell Indonesia tak sekadar memroduksi minyak pelumas. Tetapi juga memperdagangkan, menyuplai, dan mengedarkan kepada para pelanggannya (Mobility and TS).

“Seluruh mata rantai oprasional tersebut memiliki risiko. Karena itu, di Shell Indonesia, aspek safety terintegrasi di setiap operasi,” kata Ingrid.

Aspek K3, katanya, sudah lama menjadi Key Performance Indicator (KPI) dan melekat pada setiap departemen.

Shell Indonesia begitu ketat menerapkan aspek HSE di setiap lini operasi. Ingrid sangat percaya bahwa penerapan aspek safety yang baik akan meningkatkan kinerja perusahaan (good safety is good business).

Ingrid mencontohkan bagaimana mitigasi risiko yang dilakukan, mampu mendongkrak royalti sebesar 26%. Lalu, meningkatkan penjualan pelumas hingga 27%.

Ingrid menjabarkan ada 8 elemen kunci dalam kinerja HSSE di Shell. Yaitu kepemimpinan dan komitmen; kebijakan dan komitmen; organisasi, tanggung jawab, dan sumber daya; manajemen risiko. Lalu, perencanaan dan prosedur; implementasi, pelaksanaan, dan pengawasan; asuransi; dan tinjauan manajemen.

Kedelapan elemen kunci tersebut dijalankan secara baik, kontinyu, dan berkesinambungan. Targetnya bukan lagi nihil kecelakaan kerja, tetapi operasi ekselen.

Dalam hal kematangan budaya K3, Ingrid menegaskan bahwa hasil pengukuran safety (Safety Culture Maturity Level/SCML), menempatkan Shell Indonesia di tingkat Generatif (5). Tak heran jika dalam ajang WSO Indonesia Safety Culture Award (WISCA) 2026 yang diselenggarakan WSO Indonesia, Shell Indonesia meraih Platinum. (Hasanuddin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button