EventSustainability

Menbud: Mitigasi Bencana Langkah Penting Bagi Pelindungan Cagar Budaya yang Berkelanjutan

Mitigasi bencana menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko sekaligus memastikan pelindungan jangka panjang bagi cagar budaya yang berkelanjutan.

JAKARTA, Improvement –  Gedung A Museum Nasional di Jakarta mengalami kebakaran hebat pada 16 September 2023. Kala itu, sebanyak 902 koleksi terdampak kebakaran.

Sebanyak 231 di antaranya dari galeri keramik, 49 dari galeri peradaban, 92 dari galeri perunggu, 225 dari galeri prasejarah, 180 dari galeri terakota, dan 125 dari ruang kebudayaan Indonesia.

Salah satu koleksi yang rusak parah akibat kebakaran adalah nekara perunggu. Koleksi yang berasal dari kebudayaan Dongson (1000 SM – abad 1 SM) ini mengalami kerusakan klasifikasi tinggi. Kobaran api kebakaran hampir memusnahkan Nekara yang dibuat lebih dari 2.000 tahun lalu tersebut.

Sebelumnya, Museum Bahari di Jakarta juga dilalap Si Jago Merah pada 16 Januari 2018. Belum lagi dua unit Rumah Gadang di Sumatera Barat, ludes terbakar pada 31 Agustus 2016 dan 23 Februari 2020.

Teranyar, 43 cagar budaya mengalami kerusakan akibat bencana hidrometeorologi yang terjadi di tiga provinsi di Pulau Sumatera, akhir November 2025.

Mitigasi Bencana, Langkah Penting

Bencana adalah ancaman nyata bagi keberlangsungan cagar budaya di Indonesia mengingat negeri ini berada di wilayah Cincin Api Pasifik (ring of fire). Untuk itu, mitigasi kebencanaan merupakan langkah penting dalam upaya pelindungan cagar budaya yang berkelanjutan.

Demikian disampaikan Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat menjadi pembicara utama dalam seminar bertajuk “Cagar Budaya Tangguh Bencana yang Berkelanjutan,” Selasa (14/4/2026). Acara ini diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan berkolaborasi dengan Yayasan Perisai Cagar Budaya Nusantara (PBN) di Museum Kebangkitan Nasional.

Menurut Fadli Zon,  selama ratusan bahkan ribuan tahun, berbagai bencana telah terjadi, sebagai konsekuensi sekaligus potensi dari posisi geografis Indonesia tersebut.

Ancaman terhadap cagar budaya pun dinilai sangat nyata, sebagaimana terlihat dalam berbagai bencana sepanjang 2025. Fadli mengungkapkan, banyak cagar budaya terdampak, mulai dari kerusakan ringan hingga berat, baik pada bangunan, situs, maupun elemen lainnya.

“Bencana bukan hanya persoalan alam, tetapi juga non-alam, termasuk faktor manusia. Oleh karena itu, penting untuk membangun kesadaran dan kecintaan terhadap budaya dan alam agar tercipta keselarasan dan dapat mengurangi dampak bencana,” kata Fadli Zon.

Selain itu, Fadli juga menyoroti jumlah Cagar Budaya Nasional (CBN) yang tercatat di Kemenbud. Ia mendorong percepatan penetapan cagar budaya secara signifikan agar upaya pelindungan dapat segera dilakukan.

“Kita harus mempercepat agar perlindungan dapat segera dilakukan. Banyak aset budaya yang belum ditetapkan sebagai cagar budaya, padahal memiliki nilai yang sangat penting, termasuk istana, situs sejarah, dan lainnya. Selain sebagai warisan budaya, ini juga memiliki potensi besar sebagai objek wisata, ekonomi budaya, dan industri budaya,” katanya.

Fadli turut menyampaikan harapannya agar kedepan sistem pelindungan semakin baik. Sehingga ketika terjadi bencana masyarakat sudah mengetahui langkah-langkah yang harus diambil, termasuk dalam mitigasi terhadap cagar budaya yang terdampak.

“Melalui seminar dan diskusi seperti ini, diharapkan muncul gagasan dan solusi yang konkret, serta kolaborasi nyata dalam upaya pelindungan dan pemajuan kebudayaan,” jelasnya.

Penguatan Kapasitas Kelembagaan

Pada kesempatan sama, Direktur Bina SDM, Lembaga, dan Pranata Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan, Syukur Asih Suprojo, menyampaikan bahwa penguatan kapasitas kelembagaan menjadi kunci dalam implementasi mitigasi bencana pada sektor kebudayaan.

“Upaya pelestarian tidak cukup hanya pada aspek pemeliharaan, tetapi harus diiringi dengan kesiapsiagaan lembaga budaya dalam menghadapi risiko bencana. Oleh karena itu, pendekatan berbasis Cagar Budaya Tangguh Bencana menjadi penting untuk memastikan keberlanjutan pengelolaan warisan budaya,” kata Syukur.

Direktur Bina SDM, Lembaga, dan Pranata Kebudayaan, Ditjen Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan, Syukur Asih Suprojo. (Foto: Dok PBN/Sapto)

Ia menekankan bahwa penyelenggaraan seminar nasional dan pameran ini merupakan bagian dari strategi penguatan ekosistem kebudayaan, dengan melibatkan komunitas, lembaga, serta para ahli lintas bidang.

“Cagar budaya tidak berdiri sendiri, ia hidup dalam ekosistem sosial yang melibatkan lembaga, komunitas, dan sumber daya manusia. Karena itu, penguatan kapasitas menjadi aspek krusial agar upaya mitigasi dapat berjalan efektif,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa seminar dan pameran ini tidak hanya bertujuan untuk berbagi pengetahuan. Tetapi juga mendorong terbentuknya jejaring kerja yang lebih solid antar pemangku kepentingan.

“Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi titik awal penguatan kolaborasi dalam membangun sistem perlindungan cagar budaya yang lebih tangguh dan berkelanjutan.”

Menurut Syukur, bencana kerap datang tanpa tanda, tetapi selalu meninggalkan jejak mendalam. Dalam konteks cagar budaya, yang terancam bukan hanya bangunan fisik, melainkan juga sejarah dan ingatan kolektif sebab Cagar Budaya memiliki sifat rapuh, unik, langka, terbatas, dan tidak terbarui.

“Oleh karena itu, melalui Sistem Manajemen Bencana Cagar Budaya atau Cagar Budaya Tangguh Bencana, upaya mitigasi menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko sekaligus memastikan pelindungan jangka panjang yang berkelanjutan,” kata Syukur.

4.924 Cagar Budaya

Sementara itu, dalam sambutannya, Ketua Yayasan PBN Hasanuddin mengatakan bahwa kegiatan seminar merupakan kolaborasi antara PBN dan Direktorat Bina SDM, Lembaga, dan Pranata Kebudayaan Kementerian Kebudayaan.

Diselenggarakan secara hybrid dan diikuti 80 peserta luring serta 220 daring yang berasal dari berbagai kalangan.

Menghadirkan sejumlah pemateri yang berasal dari berbagai disiplin ilmu berbeda dan lintas instansi. Misalnya Dr Fitra Arda, MHum (Pamong Budaya Utama Kemenbud), Dr Abdul Muhari, SSi, MT (Kapusdatin BNPB), dan Prof dr Mondastri Korib Sudaryo, MS, DSc (guru besar FKM UI).

Lalu ada Soehatman Ramli, Dipl SM, SKM, MBA (Chairman World Safety Organitation Indonesia) serta Ir Albertus B Kriswandhono, MHum (arsitek dan arkeolog/pelestari bangunan cagar budaya).

Ketua Yayasan PBN Hasanuddin (kanan) saat memberikan cinderamata kepada Menteri Kebudayaan Fadli Zon (kiri). (Foto: Istimewa)

Dikatakan, saat ini terdata 4.924 cagar budaya di seluruh Indonesia yang terdiri atas benda, bangunan, struktur, situs, dan kawasan dengan mayoritas terdapat di Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Sumatera Barat, dan Jawa Tengah. Sebanyak 313 di antaranya telah ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat nasional.

Sedangkan jumlah museum per Juni 2025 terdapat 454 unit yang tersebar di seluruh Indonesia dengan mayoritas terdapat di Jawa Timur, DKI Jakarta, dan Jawa Tengah.

“Bagi Cagar Budaya, bencana sesungguhnya adalah ketika sejarah dan budaya hilang dari ingatan kolektif masyarakat karena berbagai aspek ketidakpedulian dan pengabaian, baik secara langsung maupun sistematis. Oleh karena itu, mari kita sama-sama peduli akan kelestarian cagar budaya agar anak cucu kita di masa mendatang bisa mendapatkan ingatan kolektif tentang masa lalu para pendahulunya,” kata Hasanuddin. (Lutfi)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button