
Meski Terluka, Dody Tuntaskan Misi Kayuh Sepeda 2.300 Km Jakarta-Aceh Tamiang
Sempat ditabrak sepeda motor dan mengalami dua kali ban kempes. Tapi Dody Johanjaya tetap bersepeda hingga lokasi tujuan, dengan jarak 2.300 km dari Jakarta.
JAKARTA, Improvement – Usai menjalankan misi kemanusiaan sejah 2.500 kilometer (km), Jakarta-Lembata NTT, Mei 2025, Dody Johanjaya kembali melakukan aktivitas serupa.
Kali ini, ia menemupuh jarak sejauh 2.300 km, Jakarta-Aceh Tamiang. Berbalut ‘Ride for Aceh Tamiang,’ jebolan Arkeologi Universitas Indonesia (UI) ini merasa tergerak untuk melakukan sesuatu demi membantu para korban banjir bandang di sana.
Fokusnya adalah perbaikan bangunan sekolah dan perlengkapan SD Babo di Aceh Tamiang. Sekolah itu mengalami kerusakan parah akibat diterjang air bah yang datang tiba-tiba pada akhir November 2025.
Perjalanan epik Dody dimulai ketika pada Sabtu (21/2/2026) ia mulai mengayuh sepedanya dari kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Seperti biasanya, tak ada pengawal ataupun pendamping. Ia bersepeda seorang diri, membelah keriuhan jalan.
Musim hujan dan bulan Ramadhan, tak menghalangi perjalanannya menuju ujung Utara Pulau Andalas. Setelah menyeberangi Selat Sunda, mantan produser ‘Jejak Petualang’ (JP) ini menjejaki Pulau Emas (Swarnadwipa), sebutan untuk Sumatera di masa silam.
Kondisi jalanan di Sumatera, tentu berbeda dengan di Jawa. Banyak tanjakan dan turunan curam. Apalagi kondisi hujan.
Dalam beberapa postingan video yang dibagikannya, ia tampak tetap bersepeda meski hujan.
Tanjakan demi tanjakan terjal dilaluinya. “Medannya berat. Tanjakan terjal yang panjang, turunan curam, hujan, angin kencang, dan panas menyengat,” kata Dody saat dihubungi Improvement, Minggu (15/3/2026) malam.
Dalam situasi itu, bersepeda seharian dengan medan yang berat sambil menjalankan ibadah puasa, menjadi sangat berisiko bagi kesehatannya. “Kalau dipaksakan (puasa), bisa berbahaya bagi kesehatan,” katanya.
Setiap hari, ia mengayuh sepeda sejauh lebih dari 100 km, dengan kondisi jalan dan cuaca yang berat.
Ditabrak Motor
Perjalanan, tak semulus dibayangkan. Saat melintasi Pesisir Selatan menuju kota Padang dan di saat sedang menanjak, tiba-tiba brak…. Sebuah sepeda motor menabrak sepedanya dari belakang dengan keras.
Dody tersungkur ke aspal jalan. Sepedanya mengalami kerusaka cukup parah. Bagian wheelset/pelek belakang pecah, ban dalam sobek, RD/pemindah gigi belakang tertekuk kedalam.

“Dalam pikiran saya, selesai sudah, missi gowes ke Aceh Tamiang gagal. Bagaimana saya bisa melanjutkan perjalanan ke Aceh dengan kondisi sepeda seperti ini,” katanya.
Peristiwanya terjadi sekitar pukul 14.00, 30 km sebelum kota Padang. Yang menabraknya adalah seorang bapak yang sedang membawa anaknya yang masih kecil. Anak itu menangis. Ada luka berdarah di bagian wajahnya.
Dody sendiri merasakan nyeri di sebagian badannya. “Saya merasakan badan bagian pinggul belakang dan lengan kanan nyeri. Bagusnya kaki aman. Saya cek, gerakan satu-satu, tidak ada rasa sakit berlebihan, berarti tidak ada yang patah,” kisahnya.
Bukan Dody namanya jika menyerah begitu saja. Dalam kondisi sebagian badan sakit, ia bangkit.
“Saya tidak mau menyerah, tanpa pikir panjang, saya langsung cari mobil bak untuk bawa sepeda ke bengkel di Padang. Biar bagaimanapun missi harus terus jalan, saya akan upayakan yang terbaik.”
Beruntung, di kota Padang ia menemukan bengkel sepeda yang mumpuni. Tetapi tidak bisa dikerjakan dalam sekejap mengingat banyak bagian yang tak bisa diganti dengan material asli semisal pelek yang terbuat dari serat karbon.
Tuntaskan Misi
Dengan kondisi itu, Dody terpaksa menginap satu mala lagi di kota Padang, menunggu perbaikan sepedanya. Sementara, di penginapan, ia merawat lukanya. Ada luka terbuka cukup panjang.
Tapi tak perlu dijahit lantaran lukanya tidak dalam. Ia mengobatinya dengan cukup memberikan cairan betadine. “Minimal tidak menimbulkan infeksi,” katanya.
Bagian lengan kanan di bagian pergelangan dan telapak tangan bengkak, mungkin memar akibat benturan ke aspal. Terasa nyeri setelah gowes berjam-jam. Karena dipakai untuk memegang stang sepeda dan mengerem.
![]()
Setelah melihat kondisi sepedanya sudah laik, ia kembali melanjukan perjalanan. Jarak kota Padang dengan Aceh Tamiang, masih sekitar 900 km.
Selama perjalanan, ia lebih mengoptimalkan tangan kiri mengingat lengan kanannya masih cedera. Dalam kondisi lengan kanan masih cedera dan bagian pinggul yang masih terasa nyeri, hari itu ia bisa tiba di Penyambungan, Kabupaten Natal, Sumatera Utara yang berjarak sekitar 170 km dari kota Padang.
“Selama masih bisa goews, saya akan terus gowes. Beruntung kedua kaki saya dan lengan kiri, tidak mengalami cedera,” ujarnya.
Dan, setelah 20 hari perjalanan, pada Sabtu (14/3/2026) ia sampai di Aceh Tamiang. Di sana ia disambut panitia yang mengarahkannya ke lokasi SD Babo di Aceh Tamiang.
“Sebenarnya tujuan saya adalah titik Nol di Sabang. Namun karena kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan, saya mengakhiri perjalanan di Aceh Tamiang. Titik Nol Sabang masih 300 km lagi dari lokasi SD Babo,” Dody menjelaskan.
Ia mengaku merasa kesakitan di bagian pinggul dan terutama lengan kanannya. “Ini masih terasa cenat-cenut,” katanya ketika dihubungi Minggu (15/3/2026).
![]()
Setelah mengalami ban kempes sebanyak dua kali dan ditabrak sepeda motor, ia mengaku senang ketika tiba di SD yang menjadi tujuan bantuan. Apalagi, katanya, ketika disambut meriah oleh para siswa SD di sana.
Sebelum menjalankan misi, Dody mengaku melakukan latihan terlebih dahulu. Targetnya, minimal 500 km gowes dalam seminggu.
Setelah Lembata di NTT dan Aceh Tamiang, rencana ke mana lagi? “Belum tahu, tergantung sponsor dan yang mengajak. Maunya sih menjelajah Kalimantan atau Papua,” pungkasnya.
Sekadar informasi, Ride for Aceh Tamiang didukung oleh Mandiri Amal Insani (MAI), sebuah badan amil zakat Bank Mandiri. (Hasanuddin)



