
Soehatman Ramli: WISCA Mendorong Budaya Keselamatan di Indonesia
WISCA merupakan bentuk apresiasi terhadap perusahaan-perusahaan yang telah menerapkan aspek K3 dengan baik dan telah menjadikan K3 sebagai budaya di perusahaan.
JAKARTA, Improvement – Auditorium Binakarna di gedung Bidakara, Jakarta Selatan, pada Jumat (8/5/2026) dipadati para udangan. Mereka berasal dari puluhan perusahaan dari berbagai sektor industri di Indonesia.
Mulai dari industri Migas, konstruksi, properti, pertambangan, aviasi, manufaktur, infrastruktur, food and beverage, transportasi, hingga lembaga pendidikan. Mereka hadir guna tujuan yang sama; menerima penghargaan dari World Safety Organization (WSO) Indonesia.
Siang itu, WSO Indonesia menggelar acara WSO Indonesia Safety Culture Award (WISCA). Tahun ini merupakan gelaran ke-tujuh sejak pertama kali dihelat pada 2020 silam.
Berbeda dengan ajang penghargaan lainnya, WISCA lebih berfokus pada kinerja perusahaan di bidang kematangan budaya keselamatan. WISCA melakukan verifikasi terhadap perusahaan yang telah melakukan upaya budaya keselamatan melalui tingkat Safety Culture Maturity (SCM).
Sebagaimana diketahui, kematangan budaya keselamatan atau K3 adalah tingkat kedewasaan suatu organisasi dalam mengintegrasikan prinsip-prinsip K3 dalam seluruh aspek operasi dan budaya perusahaan. Terdiri lima tingkatan. Yaitu Patologis (1), Reaktif (2), Kalkulatif (3), Proaktif (4), dan Generatif (5).
“Semakin tinggi tingkatan kematangan budaya yang dicapai, semakin bagus tingkat penerapan K3 di perusahaan. Kasus kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja juga menjadi sangat rendah,” kata Soehatman Ramli, Chairman WSO Indonesia.
Dorong Budaya Keselamatan
Namun, Soehatman mengingatkan bahwa WISCA bukanlah perlombaan. “WISCA bukan perlombaan. Tetapi merupakan bentuk apresiasi terhadap perusahaan-perusahaan yang telah menerapkan aspek K3 dengan baik dan telah menjadikan K3 sebagai budaya di perusahaan. Lewat WISCA, WSO Indonesia berupaya mendorong kalangan industri di Indonesia untuk terus meningkatkan kematangan budaya K3 di perusahaannya masing-masing,” kata Soehatman.
![]()
WSO adalah organisasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dunia, yang didirikan di Filipina pada 1975. Tujuan utamanya, membangun masyarakat dunia yang berbudaya atas nilai dan perilaku keselamatan (safety culture).
Kini, WSO bermarkas di Amerika Serikat, dan di Indonesia sendiri, WSO dibentuk pada 2008 dengan inisiator Soehatman Ramli.
Menurut Soehatman, WISCA diselenggarakan dengan berbagai tujuan. Yaitu:
- Memberikan penghargaan dan apresiasi kepada perusahaan, organisasi, lembaga pendidikan, maupun individu yang telah memperlihatkan komitmennya di bidang keselamatan.
- Mendorong agar semua pemangku kepentingan keselamatan dapat berkontribusi secara signifikan.
- Keselamatan di Indonesia dapat terus meningkatkan partisipasinya dalam bidang keselamatan di dunia pada umumnya dan di Indonesia pada khususnya.
- Memfasilitasi dan menunjang ekosistem kegiatan forum/komunitas yang berfokus pada aspek ESG (Environment, Social, Governance)
42 Perusahaan
Pada gelaran tahun ini, WISCA 2026 diikuti oleh 42 perusahaan. “Penghargaan tahun ini diberikan kepada 42 perusahaan yang telah mencapai kematangan budaya tingkat Gold dan Platinum. Penghargaan Gold diberikan kepada 32 perusahaan, sedangkan Platinum kepada 10 perusahaan,” Soehatman menambahkan.
Berbeda dengan gelaran sebelum-sebelumnya, tahun ini tidak ada perusahaan yang menerima penghargaan tingkat Kalkulatif (Silver). Hal ini mengindikasikan bahwa upaya kalangan industri dalam meningkatkan kematangan budaya keselamatan, semakin tinggi.
Menurut Soehatman, ada peningkatan cukup signifikan dalam kategori Platinum. “Tahun ini ada 10 perusahaan yang meraih penghargaan Platinum. Tahun sebelumnya 9, dan tahun sebelumnya lagi hanya 7. Hal ini membuktikan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut terus meningkatkan kematangan budaya keselamatan atau K3 di perusahaan masing-masing,” katanya.
Sejak pertama kali dihelat pada 2020 hingga 2025, tercatat sudah 124 perusahaan dan institusi dari berbagai sektor strategis dengan budaya keselamatan tingkat 3, 4, dan 5.
Dari industri Migas, tercatat 36 perusahaan. Konstruksi dan properti (28); transportasi, logistik, dan pariwisata (18); pendidikan, pemerintah, dan organisasi (13). Lalu, pertambangan Minerba (11); manufaktur dan F&B (8); petrokimia (5); energi (3); dan keamanan (1).
Hal positif dari kegiatan WISCA, tambah Soehatman, kasus kecelakaan kerja dan penyakit terkait kerja dari perusahaan-perusahaan tersebut menjadi sangat rendah.
Ia mengimbau agar perusahaan-perusahaan di Indonesia untuk terus menerapkan aspek K3 dengan baik dan berkesinambungan. Sebab hal ini terkait dengan keselamatan pekerja.
“Kami meyakini bahwa budaya K3 yang kuat adalah fondasi utama dalam mewujudkan World Class Safety Performance,” pungkas Soehatman. (Hasanuddin)



