
10 Laga Sepak Bola Paling Mematikan di Dunia
Kanjuruhan di Malang, Indonesia, tercatat sebagai laga sepak bola paling mematikan kedua di dunia dalam sejarah.
JAKARTA, Improvement – Sejak pertama kali ditemukan di China pada abad 3 SM dengan nama Cuju, sepak bola merupakan olahraga paling digemari di seantero jagat. Mulai anak-anak hingga lansia, begitu menyukai sepakbola, meski sebatas menyaksikan.
Namun, sepak bola juga merupakan olahraga berisiko, baik bagi pemain, official, penonton, maupun masyarakat. Bagi pemain, cidera hingga kematian, acap terjadi di lapangan hijau.
Septian Raharja (35), meninggal dunia saat dilarikan ke rumah sakit setelah tubuhnya tersambar petir ketika berlaga di Stadion Siliwangi, Bandung pada Februari 2024. Petir juga menewaskan Hugo Dela Cruz Meza dan melukasi sejumlah pemain lainnya saat berlaga di sebuah stadion sepakbola di Peru, November 2024.
Legenda penjaga gawang sepak bola Indonesia asal Persela Lamongan, Choirul Huda, meninggal dunia setelah mengalami benturan keras di lapangan pada 2017. Lalu, Ricky Yakobi, mantan striker Timnas Indonesia meninggal dunia di lapangan akibat serangan jantung pada 2020.
Belum lagi tim official lapangan (wasit dan penjaga garis) yang acap menjadi pelampiasan kemarahan pemain dan penonton. Mereka jadi bulan-bulanan pemain dan bahkan penonton yang merasa dikecewakan atas keputusannya.
Sepak bola juga menjadi olahraga yang mampu membius masyarakat, sehingga melahirkan fanatisme luar biasa bagi para penggemarnya. Fanatisme berlebihan acap menjelma menjadi arogansi yang berbuah anarkis dan kriminal.
Berikut 10 laga sepak bola paling mematikan di dunia versi Improvement. Daftar dibuat berdasarkan banyaknya jumlah korban meninggal dunia, dimulai dari peristiwa dengan jumlah korban tewas terbanyak di dunia.
Estadio Nacional, Peru
![]()
Pertandingan sepak bola paling mematikan dalam sejarah terjadi di Estadio Nacional di Lima, Peru pada 24 Mei 1964. Kala itu, pertandingan kualifikasi Olimpiade antara Peru dan Argentina, berubah menjadi ajang kerusuhan mengerikan nan mematikan.
Kerusuhan dipicu keputusan wasit yang membatalkan gol bagi Peru. Bola yang sudah melesak ke gawang Argentina, tanpa sebab yang jelas, dibatalkan wasit. Penonton, yang mayoritas warga Peru sebagai tuan rumah, murka. Mereka bertindak anarkis.
Guna mengamankan situasi, aparat kepolisian yang berjaga, melepaskan gas air mata. Tindakan aparat ini melahirkan kepanikan di kalangan penonton, yang berusaha menyelamatkan diri melalui pintu. Nahas, pintu tak mampu menampung ribuan penonton yang merangsek. Tercatat 328 orang tewas terinjak-injak.
Stadion Kanjuruhan, Indonesia
![]()
Pertandingan sepak bola paling mematikan kedua di dunia, datang dari Indonesia. Pada 1 Oktober 2022, Stadion Kanjuruhan di Kabupaten Malang, Jawa Timur, menjadi saksi bisu betapa pertandingan sepak bola bisa amat mematikan. Pada hari itu, 125 orang meregang nyawa, dan 10 orang lainnya mengembuskan napas terakhir beberapa hari kemudian.
Hingga 24 Oktober 2022 atau tiga pekan setelah kejadian, total korban meninggal dunia akibat peristiwa yang kemudian dikenal dengan nama Tragedi Kanjuruhan, mencapai 135 orang. Sebanyak 125 orang di antaranya meninggal saat peristiwa itu terjadi. Kejadian ini juga mengakibatkan 583 orang mengalami cidera.
Perisrtiwa mematikan ini terjadi setelah digelar laga pertandingan antara Arema FC melawan Persebaya, Surabaya. Dalam laga ini, tuan rumah Arema FC kalah. Kekalahan ini mulanya tak membuat para pendukung (supporter) Arema Malang (Aremania) kecewa. Kerusuhan terjadi manakala sejumlah penonton memasuki lapangan dan mendapat tindakan represif dari aparat kepolisian yang berjaga.
Tindakan ini membuat Aremania marah. Sekitar 3.000 Aremania merangsek ke lapangan. Mereka bertindak anarkis dengan melemparkan benda-benda ke arah lapangan, menyalakan api di stadion. Guna mengendalikan situasi, sejumlah polisi menembakkan gas air mata. Tembakan gas air mata ini membuat panik ribuan penonton.
Mereka berusaha menyelamatkan diri, tapi pintu gerbang stadion terkunci. Akibatnya terjadi penumpukan massa, dan dalam kondisi kepanikan, banyak penonton terjatuh dan terinjak-injak. Tercatat 125 orang meninggal dunia karena terinjak-injak dan sesak napas. Sementara 10 orang lainnya mengembuskan napas terakhir saat dalam perawatan medis beberapa hari kemudian. Mayoritas korban meninggal dunia, berada di bawah usia 17 tahun (38 orang) dan ada seorang balita berusia 3 tahun turut menjadi korban meninggal dunia.
Dari kasus ini, enam orang diajukan ke meja hijau pada tahun 2023. Lima di antaranya divonis kurungan penjara selama 1 tahun hingga 2,5 tahun. Yaitu Kepala Keamanan Arema (1 tahun), Ketua Panitia Penyelenggara Pertandingan (1,5 tahun), Komandan Kompi Brimob Polda Jawa Timur (1,5 tahun), Kasat Samapta Polres Malang (2 tahun), dan Kepala Bagian Operasional Polres Malang (2,5 tahun).
3. Accra Sports’ Stadium, Ghana
![]()
Laga pertandingan sepak bola amat mematikan juga terjadi di Benua Afrika. Dalam pertandingan antara Asante Kotoko dan Hearts of Oak yang diselenggarakan di Accra Sport’s Stadium di Ghana pada 9 Mei 2001, tercatat 126 orang meninggal dunia. Kasus ini menjadikannya sebagai laga sepak bola paling mematikan ketiga di dunia dan terburuk dalam sejarah sepak bola di benua Afrika.
Mereka yang tewas adalah para penonton. Bermula ketika gawang Asante Kotoko kebobolan di menit-menit terakhir pertandingan, dan membuat Hearts of Oak unggul 2-1. Para pendukung Asante Kotoko yang kecewa, mulai bertindak anarkis. Mereka melemparkan botol dan kursi ke lapangan.
Aparat keamanan mencoba meredam. Tapi tak berhasil. Mereka kemudian menembakkan gas air mata ke arah tribun, yang membuat panik para penonton. Ribuan orang mencoba menyelamatkan diri ke pintu keluar. Tapi pintu terkunci. Akibatnya, 126 dinyatakan meninggal dunia akibat terinjak-injak dan sesak napas.
Hillsborough, Inggris
![]()
Dalam dunia sepak bola, para pendukung klub sepak bola di Inggris terkenal akan sikapnya yang holigans. Mereka acap membuat kerusuhan di mana pun berada, baik di dalam negeri sendiri maupun di negara orang.
Salah satunya, terjadi di stadion Hillsborough di kota Sheffield, Inggris pada 15 April 1989. Kala itu ada laga semi final Piala FA antara Liverpool FC dan Nottingham Forest. Stadion Hillsborough sendiri merupakan kandang dari klub sepak bola Sheffield Wednesday.
Para pendukung fanatik Liverpool datang berbondong-bondong ke kota Sheffield. Jumlahnya sangat banyak, dan tak semuanya bisa ditampung di stadion yang berkapasitas 34.835 penonton. Dilaporkan, mereka yang tidak bisa masuk, membuat onar di luar stadion.
Pihak kepolisian setempat kemudian membuka salah satu pintu gerbang masuk. Di sinilah peristiwa itu terjadi. Mereka langsung menyeruak masuk. Terjadi penumpukan massa di satu titik. Akibatnya 96 orang meninggal dunia karena sesak napas dan terinjak-injak, dan seorang lagi mengembuskan napas terakhir bertahun-tahun kemudian. Total 97 orang tewas dan 766 orang lainnya menderita luka. Seluruhnya merupakan pendukung Liverpool.
Semula, pihak kepolisian menuding para pendukung Liverpool yang mabuk-mabukan dan berbuat anarkis. Namun berdasarkan hasil investigasi beberapa tahun setelah kejadian, peristiwa itu murni karena kelalaian pihak kepolisian yang membuka salah satu pintu masuk stadion.
Kasus ini menjadi peristiwa terburuk dan paling mematikan dalam sejarah persepakbolaan Inggris dan keempat di dunia.
Kathmandu Hailstorm, Nepal
![]()
Pertandingan sepak bola paling mematikan kelima di dunia, terjadi di stadion Dasarath, Kathmandu, Nepal. Kasusnya cukup menarik. Laga sepak bola mematikan yang terjadi di Nepal ini bukan karena kerusuhan, melainkan cuaca buruk.
Bermula ketika diselenggarakan laga pertandingan antara klub lokal, Janakpur Cigarette Factory melawan Liberation Army dari Bangladesh dalam ajang kejuaraan Piala Tribhuvan. Kesebelasan Janakpur Cigarette Factory merupakan klub sepak bola kesayangan masyarakat Nepal, sehingga pertandingan yang berlangsung pada 12 Maret 1988 itu dibanjiri penonton.
Ditengah serunya pertandingan, tiba-tiba datang badai es yang ekstrem. Cuaca buruk ini memicu kepanikan di kalangan penonton. Penonton yang panik berusaha menyelamatkan diri dan mencari perlindungan di dalam tribun. Namun, mereka terjebak dan terhimpit karena sebagian besar pintu keluar stadion terkunci.
Akibatnya, 93 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya terluka. Para korban meregang nyawa karena terinjak-injak dan sesak napas. Peristiwa ini sempat tercatat sebagai laga paling mematikan dalam sejarah sepak bola Asia, sebelum kemudian predikat ini digantikan oleh Kanjuruhan, Indonesia pada tahun 2022.
Stadion Mateo Flores Nat’l, Guatemala
![]()
Tragedi sepak bola paling mematikan di Guatemala terjadi pada 16 Oktober 1996 di Stadion Mateo Flores Nat’l (kini berganti nama menjadi Stadion Doroteo Guamuch Flores), Guatemala City. Insiden ini menewaskan sedikitnya 84 orang dan melukai lebih dari 140 lainnya.
Peristiwa ini disebabkan oleh kepanikan massal (crowd crush) sesaat sebelum pertandingan Kualifikasi Piala Dunia antara Guatemala melawan Kosta Rika. Pemicunya adalah kelebihan kapasitas penonton. Stadion itu berkapasitas 36.000 hingga 45.000 penonton, namun saat kejadian, stadion tersebut dibanjiri setidaknya 60.000 penonton.
Membanjirnya penonton disebabkan oleh banyaknya tiket palsu beredar yang dijual luas kepada masyarakat. Karena memiliki tiket, penonton merasa berhak memasuki stadion. Panitia tidak bisa membedakan mana tiket asli dan palsu.
Puluhan ribu penonton sudah membanjiri stadion. Mereka menumpuk di pintu masuk. Begitu pintu gerbang dibuka, mereka menyerbu masuk dalam kondisi saling berdesakan dan berhimpitan. Terjadi kepanikan massal. Penonton yang jatuh, terinjak-injak oleh mereka yang terus berusaha memasuki stadion. Akibatnya, 84 orang tewas dan 140 penonton lainnya terluka akibat terinjak-injak dan sesak napas.
Akibat dari insiden ini, otoritas sepak bola Guatemala dan FIFA turun tangan untuk memperbaiki fasilitas stadion dan memperketat prosedur keamanan serta penjualan tiket di negara tersebut.
Port Said Stadium Riot, Mesir
![]()
Pasca kejatuhan rezim Hosni Mubarak di tahun 2011, kerusuhan dalam laga sepak bola di Mesir sering terjadi. Dua di antaranya bahkan berakhir dengan kematian begitu banyak penonton dan kematiannya terbilang sadis. Sebab, dalam kerusuhan itu, para pendukung sepak bola membawa batu, botol, dan bahkan senjata tajam ke arena stadion.
Salah satunya terjadi di Port Said Stadium Riot, yang terjadi pada 1 Februari 2012. Kerusuhan massal antara suporter klub Al-Masry dan Al-Ahly menewaskan setidaknya 79 orang dan melukai lebih dari 1.000 lainnya.
Kerusuhan biasanya dipicu oleh para pendukung tim sepak bola yang kalah dalam laga, karena berbagai alasan. Namun, yang terjadi di Mesir, justru sebaliknya. Para pendukung tim sepak bola yang menang laga, justru yang menyerbu lapangan dan menyerang siapa saja dari tim lawan secara brutal.
Peristiwa ini terjadi setelah laga tanding antara tuan rumah Al-Masry melawan Al-Ahly. Dalam laga tanding itu, tim tuan rumah Al-Masry menang 3-1 atas lawannya. Usai laga, tiba-tiba ribuan pendukung Al-Masrymenyerbu lapangan, mengejar pemain dan suporter Al-Ahly menggunakan senjata tajam, batu, dan botol. Banyak korban terjebak dan tewas akibat terinjak-injak atau dilempar dari tribun stadion.
Seorang pejabat di Kementerian Kesehatan, Hisham Sheha, mengatakan kematian disebabkan oleh luka tusuk, perdarahan otak, dan gegar otak. Pelatih Al Ahly kala itu, Manuel Jose, bahkan ditinju dan ditendang oleh suporter Al Masry. Ketika sudah sampai di ruang ganti, Jose kembali dibuat kaget karena ada fans yang tergeletak mati di sana.
Pemerintah Mesir menetapkan tiga hari berkabung nasional dan memecat pimpinan kepolisian setempat. Liga Mesir sempat dihentikan pada tahun 2011 dan 2012, dan Pemerintah Mesir mengeluarkan peraturan yang melarang supporter menghadiri laga sepak bola selama dua tahun.
Dari kerusuhan brutal nan mematikan ini, 21 pendukung tim Al-Masry dijatuhi hukuman mati, 24 dipenjara, dan dua polisi dijatuhi hukuman penjara selama 15 tahun. Putusan pengadilan ini membuat kerusuhan di kota Port Said. Dilaporkan setidaknya 40 orang tewas dalam bentrokan antara pendukung tim Al-Masry dengan aparat kepolisian usai putusan pengadilan itu.
Pada 8 Februari 2015, kerusuhan berdarah dalam laga sepak bola kembali pecah di Mesir. Kali ini terjadi di Stadion Air Defence Kairo, antara tim pendukung sepak bola Zamalek dengan pihak kepolisian. Kerusuhan berdarah itu terjadi selang sepekan setelah Asosiasi Sepak bola Mesir (EFA) mencabut larangan supporter menghadiri pertandingan sepak bola di stadion.
Akibat rentetan kekerasan tersebut, pihak berwenang di Mesir memberlakukan larangan ketat yang membuat stadion sepak bola sering kali harus dikosongkan dari penonton selama bertahun-tahun
Estadio Monumental, Argentina
![]()
Argentina, salah satu raksasa sepak bola dunia, juga pernah mencatatkan sejarah kelam dalam dunia sepak bola. Pada 23 Juni 1968, terjadi tragedi yang dikenal dengan sebutan tragedi Puerta di Estadio Monumental, Buenos Aires, Argentina. Dalam peristiwa tersebut, dilaporkan 71 orang tewas dan lebih 100 orang lainnya terluka.
Peristiwa bermula ketika sedang ada laga antara River Plate (tuan rumah) melawan Boca Juniors. Laga berakhir imbang, 0-0. Menjelang akhir pertandingan, para penonton mulai membubarkan diri.
Di “Pintu 12” (Puerta 12) yang merupakan akses keluar tribun suporter Boca Juniors, terjadi penumpukan massal. Tekanan dari ribuan penonton yang terus mendorong dari belakang, ditambah lorong yang gelap, menyebabkan orang-orang di barisan depan terjatuh, terinjak, dan tumpukan manusia pun tak terhindarkan.
Sampai saat ini, penyebab pastinya masih diperdebatkan. Berbagai versi menyebutkan adanya bentrokan dengan aparat kepolisian di luar stadion yang memicu kepanikan, pintu keluar yang terkunci atau terhalang, hingga molinet (pintu putar) yang belum dibuka sehingga menghambat aliran suporter yang keluar.
Tragedi ini menjadi catatan hitam terbesar dalam sejarah olahraga Argentina. Akibat insiden ini, gerbang-gerbang stadion akhirnya diubah penamaannya menggunakan huruf, imbas dari trauma dan nomor Pintu 12 dihapuskan.
Ibrox Stadium, Skotlandia
![]()
Apa yang terjadi di Skotlandia, berbeda dengan kasus-kasus sebelumnya. Di Skotlandia, laga pertandingan mematikan justru dipicu oleh konstruksi bangunan stadion Ibrox di Glasgow. Saat laga derby Old Firm antara Rangers dan Celtic, penghalang tangga tribun (Stairway 13) tiba-tiba runtuh.
Peristiwa yang terjadi pada 2 Januari 1971 dan menjelang akhir pertandingan ini memicu kepanikan penonton. Akibatnya, 66 orang tewas (termasuk banyak anak-anak) dan lebih dari 200 lainnya terluka akibat berdesak-desakan dan terinjak. Kasus ini mendorong renovasi besar-besaran pada struktur stadion modern di Inggris dan Skotlandia demi keselamatan penonton.
Menariknya, peristiwa ini bukan yang pertama terjadi. Sebelumny, pada 5 April 1902, hal serupa juga pernah terjadi di Ibrox Stadium. Kala itu, tribun penonton bagian barat yang terbuat dari kayu, runtuh saat laga internasional antara Skotlandia dan Inggris. Akibatnya, 25 orang meninggal dan 517 lainnya luka-luka. Kejadian ini menjadi salah satu pemicu awal perhatian dunia terhadap kelayakan struktur stadion sepak bola.
Lenin Stadium, Rusia
![]()
Saat ini dikenal dengan nama Luzhniki Stadium atau Stadion Luzhniki, terletak di kota Moskow, Rusia. Pada 2018 lalu menjadi salah satu stadion dilangsungkannya Piala Dunia. Namun Stadion Luzhniki memiliki sejarah kelam saat masih bernama Lenin Stadium.
Kisah kelam dalam dunia sepak bola Rusia ini terjadi pada 20 Oktober 1982. Kala itu sedang digelar pertandingan Piala UEFA antara Spartak Moskow dan klub Haarlem, Belanda. Sebagai tuan rumah, pertandingan tersebut dibanjiri penonton, yang sebagian besar remaja.
Dalam laga itu, tim Spartak unggul 1-0. Hingga babak kedua akan berakhir, kedudukan masih tetap sama. Ketika laga berlangsung, cuaca dingin menyergap. Jelang pertandingan berakhir, banyak penonton yang mulai meninggalkan stadion. Saat penonton bergerak keluar, Spartak Moskow mencetak gol kedua. Banyak penonton yang berbalik arah untuk merayakannya, bertabrakan dengan arus suporter yang tetap ingin pulang.
Terjadi penumpukan parah hingga seseorang terjatuh di tangga. Hal ini memicu efek domino, di mana ribuan suporter saling berdesakan dan terinjak-injak di tangga yang licin bersalju. Akibatnya, banyak penonton yang meninggal dunia karena terinjak-injak dan sesak napas. Otoritas resmi mencatat 66 orang tewas dan puluhannya lainnya terluka.
Laporan tidak resmi dari pihak tertentu sempat menyebut angka korban yang jauh lebih besar hingga ratusan orang. Tragedi ini ditutup-tutupi oleh pemerintah Uni Soviet pada masa itu. Kebenaran dan rincian lengkap mengenai insiden ini baru mulai dibuka secara luas kepada publik beberapa tahun kemudian.
Berbagai kasus di atas menjadi indikasi nyata bahwa sepak bola merupakan cabang olah raga berisiko baik bagi pemain, official, penonton, masyarakat, dan lingkungan. Dari berbagai kasus yang terjadi, FIFA sebenarnya sudah mengeluarkan berbagai aturan terkait keselamatan dalam persepakbolaan dunia. (berbagai sumber/Hasanuddin)



