
Soehatman Ramli: Masa Depan Safety Tak Sekadar Dikendalikan Teknologi
Di masa depan, safety tak sekadar dikendalikan teknologi. Tetapi juga kepemimpinan, budaya, kompetensi, inovasi, dan kolaborasi.
JAKARTA, Improvement – Perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat dalam dua dekade terakhir, telah mengubah wajah dunia. Bahkan, peradaban manusia. Belanja kini tak mesti pergi ke pasar, bepergian juga tak perlu antre membeli tiket, dan sebagainya.
Manusia tak lagi disekat ruang dan waktu secara tegas. Apa yang terjadi di suatu negara akan segera diketahui oleh masyarakat di negara lain yang berjarak ribuan kilometer.
Banyak jenis pekerjaan baru, lahir di era teknologi digital. Di dunia industri, tenaga manusia mulai digantikan robot dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sudah merambah ke segala lini aktivitas manusia.
Bagaimana dengan safety? Sing Hin Ho mengingatkan, AI bukan segalanya. “Kendali tetap berada di tangan manusia,” kata Senior Consultant for International Workplace Safety and Health dari Singapura dalam acara Exclusive Roundtable Discussion bertajuk ‘Safety 2030: Future Trend in Safety’ di Jakarta, Selasa (28/7/2026).
![]()
AI, katanya, hanya alat (tools), yang dapat membantu manusia dalam melakukan pekerjaannya.
“AI tidak dapat membangun budaya keselamatan. Namun, di dalam budaya tersebut, AI dapat melipatgandakannya,” kata Ho yang menyajikan materi bertajuk “AI in Safety.”
“Masa depan keselamatan bukanlah pilihan antara teknologi dan sisi kemanusiaan, melainkan integrasi keduanya yang didasarkan pada nilai-nilai,” Ia menegaskan.
Masa Depan Safety
Acara diselenggarakan oleh World Safety Organization (WSO) Indonesia bekerja sama dengan Singapura. Sebelumnya, WSO Indonesia telah menjalin kolaborasi dengan WSO Pakistan, Australia, dan India.
“Dan untuk kegiatan hari ini kita berkolaborasi dengan teman-teman dari Singapura,” kata Soehatman Ramli, Chairman WSO Indonesia, dalam sambutannya.
![]()
Selain Siong Hin Ho, juga hadir JC Sekar (Founder & CEO AcuiZen Technologies, Singapura) dan Karen Ong (GM of SCAL Academy Singapura) sebagai narasumber.
JC Sekar menyajikan materi bertajuk “Technology Advancements in Safety” sedangkan Karen Ong menampilkan materi “Training for the Future.”
Menurut Soehatman, tema “Safety 2030: Future Trends in Safety”, sangat relevan dengan perubahan yang sedang terjadi di seluruh dunia.
“Kita memasuki era transformasi yang ditandai oleh perkembangan Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), Digital Twin, Big Data Analytics, otomatisasi, ESG, Sustainability. Tak kalah pentingnya adalah perubahan iklim yang akan mengubah cara kita mengidentifikasi, mengendalikan, dan mengelola risiko,” kata Soehatman.
“The future of safety will not only be driven by technology, but also by leadership, culture, competence, innovation, and collaboration. The future of safety is not something we wait for. It is something we create together,” Soehatman menegaskan.
Dikatakan, kelamatan kerja saat ini bukan lagi sekadar upaya memenuhi regulasi atau memeroleh sertifikasi. Keselamatan telah menjadi fondasi produktivitas, keberlanjutan, daya saing, dan reputasi organisasi. PBB telah menempatkan aspek HSE sebagai bagian dari sustainability atau ESG.
“Saya berharap forum ini menjadi wadah untuk bertukar pengalaman, berbagi praktik terbaik, memperluas jejaring kolaborasi, serta melahirkan gagasan-gagasan baru dalam membangun sistem keselamatan kerja yang lebih tangguh di Indonesia maupun di kawasan regional,” kata Soehatman.
Positif
Acara yang dibuka Direktur Bina Pengawas Ketenagakerjaan dan Pengujian K3 Kementerian Ketenagakerjaan Muhammad Idham ini dihadiri sekitar 50 peserta. Mereka merupakan para pengambil keputusan di bidang K3 di instansinya masing-masing.
Para peserta menyambut positif acara yang diselenggarakan sebab tema yang diangkat dinilai sangat relevan dengan kondisi saat ini.
Beni Cahyadi, missalnya. Pria yang akrab disapa Kang Ben ini berpendapat bahwa penggunaan teknologi AI merupakan keniscayaan dalam sektor industri, termasuk K3.

“Kita tidak bisa menghindar dari kemajuan teknologi. AI berperan penting dalam dunia K3. Misalnya saja, AI akan mengisi gap keterbatasan SDM di bidang pengawasan kerja sebagaimana disampaikan Pak Idham, di bidang pelatihan, di lapangan, penyusunan laporan. AI sudah banyak digunakan di banyak sektor industri di Indonesia, tentu dalam kaitannya keselamatan kerja. Pokoknya AI berperan di semua aktivitas K3. Namun, sekali lagi, AI hanya lah alat untuk membantu proses pekerjaan. Kendali tetap berada di tangan manusia,” kata pria bertubuh subur ini.
Nada serupa juga dikemukakan Sugeng Haribowo, HSE Manager Penta-Ocean Construction Co.Ltd. “Saya menyambut baik acara yang diinsiasi WSO Indonesia. Tema yang diangkat sangat menarik terkait masa depan safety dan sangat relevan dengan kondisi saat ini. Terkait digitalisasi dan AI, kami di Penta-Ocean sudah diimplementasikan. Bahkan, penggunaan AI menjadi sebuah keharusan di Penta-Ocean untuk optimalisasi kerja,” kata Sugeng.

Ia berharap, teknologi AI bisa mereduce tingkat kecelakaan kerja yang masih banyak terjadi di sektor konstruksi Indonesia.
Dari sektor pendidikan, Ahmad Afif Maulidi juga merespons positif. Sebab, katanya, teknologi AI juga sudah banyak diterapkan dalam dunia pendidikan. Termasuk di Prodi S1 K3 STIKES YKY Yogyakartayang dipimpinnya.
Pihaknya bahkan sudah mengembangkan penggunaan AI untuk mendeteksi risiko melalui postur tubuh. “Melalui computer vision, AI sangat membantu dalam mendeteksi berbagai risiko tinggi, sedang, rendah, dari postur tubuh. Jadi bukan hanya wajah, tetapi juga posisi dan postur tubuh. Jadi, dari posisi tubuh ketika sedang bekerja bisa terdekteksi apakah posisi tubuhnya itu berisiko tinggi, sedang, atau rendah,” Ahmad menjelaskan.

Ia berharap, apa yang sedang dikembangkan di kampusnya, akan bisa diimplementasikan di dunia industri Indonesia.
Nada serupa juga dikemukakan Raden Pradipta Nugroho, EHS Lead PT Kerry Ingredients Indonesia. Ia mengapresiasi acara yang diinisiasi WSO Indonesia sebab tema yang diangkat relevan dengan kondisi saat ini.

Pria yang akrab disapa Dipta ini tak menampik jika teknologi AI tidak bisa dipisahkan dari masa depan safety. “Di industri manufaktur seperti kami, AI sangat berperan untuk data analitik, process risk assessment termasuk penilaian risiko. Mempermudah pekerjaan yang dilakukan, efektif dan efisien terkait produktivitas serta mempermudah komunikasi dengan pekerja di seluruh tingkatan,” Dipta menjelaskan.
Oleh karena itu, ia berharap, agar kedepan dunia K3 Indonesia bisa dengan cepat beradaptasi dengan perkembangan zaman. (Hasanuddin)



