NewsSustainability

Uzin Berupaya Menyelamatkan Lukisan Mural Bersejarah dari Kerusakan Parah

Lukisan mural karya Hariadi Sumodidjojo di Museum Kesejarahan Jakarta, mengalami kerusakan parah. Uzin berupaya menyelamatkan kerusakan dengan menghentikan laju kapilarisasi air dari bawah tanah.

JAKARTA, Improvement – Kondisi lukisan mural karya maestro pelukis Hariadi Sumodidjo yang berada di Museum Kesejarahan Jakarta, mengalami kerusakan cukup parah. Banyak bagian cat lukisan, mengelupas. Pemicunya, dinding tempat lukisan mural itu, mengalami kelembapan dalam waktu yang lama. Apalagi, lukisan itu berbahan dasar air (water based).

Upaya penyelamatan lukisan yang dibuat tahun 1975 itu, sudah beberapa kali dilakukan. Namun, hasilnya belum optimal. Air dari bawah tanah tetap merambat pelan memanjat dinding.

Kondisi ini diperparah dengan penggunaan cat polimer (berbasis plastik dan arklirik) di bagian dinding luar ruangan, sehingga air terjebak di dinding.   Lukisan bersejarah itu pun tampak kusam. Di beberapa bagian warnanya memudar, bahkan hilang sama sekali.

Kondisi ini memicu PT Uzin Utz Indonesia tergerak melakukan upaya penyelamatan. Pada Maret 2025, Uzin melakukan percobaan dengan membuka sebagian dinding luar ruangan bagian utara dan selatan. Di antara batu bata, disuntikkan (injeksi) cairan tertentu untuk menahan perambatan air dari bawah tanah.

Percobaan ini berhasil. “Setelah dua bulan, hasilnya sangat positif. Kadar kelembapan dinding mengalami penurunan lebih dari 30%. Sementara di dalam ruangan, RH (Relative Humidity) menunjukkan penurunan dari 65% hingga ke 8%,” kata Sugiarto Goenawan, Direktur PT Uzin Utz Indonesia.

Upaya Penyelamatan

Keberhasilan uji coba ini ditindaklanjuti. Pada 14 Agustus 2026, setelah mendapat restu dari Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, dilakukan pembobokan dinding ruangan bagian luar setinggi satu meter dari bawah. Seperti halnya uji coba pertama, di sela-sela batu bata dan pada setiap jarak 20 – 30 cm, diinjeksikan cairan tertentu.

“Hasilnya masih dalam pengamatan,” kata Sugi saat ditemui di Museum Kesejarahan Jakarta, Rabu (15/9/2026).

Dikatakan, upaya penyelamatan lukisan mural karya Hariadi Sumodidjojo di Museum Kesejarahan Jakarta, merupakan Tanjung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL/CSR) PT Uzin Utz Indonesia.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari CSR kami untuk membantu Museum Kesejarahan Jakarta mempertahankan kelestarian lukisan mural karya Hariadi. Lukisan itu merupakan lukisan bersejarah yang dibuat tahun 1975. Fokus utamanya adalah menghentikan laju kerusakan yang disebabkan oleh kelembapan tinggi pada dinding, yang selama ini menjadi sumber degradasi permukaan lukisan mural,” Sugi menjelaskan.

Menurut Sugi, upaya penghentian laju kapilarisasi air dari tanah ke dinding dengan menggunakan teknologi injeksi, baru kali ini diterapkan di Indonesia. Material yang disuntikkan ke sela-sela batu bata merah, katanya, berupa cairan yang memiliki berat jenis lebih tinggi dari air, bersifat hidrofobik (anti air), dan mampu bereaksi aktif meskipun substrat dalam kondisi lembap. “Dan, tidak merusak terhadap bangunan itu sendiri maupun lukisan muralnya,” katanya.

Diapresiasi

Upaya Uzin menyelamatkan lukisan mural karya Hariadi di Museum Kesejarahan Jakarta, mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Salah satunya, Kepala Pusat Konservasi Cagar Budaya (PKCB) Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Norviadi Setio Husodo.

“Tindakan yang dilakukan Uzin merupakan hal positif. Sebab dinding bangunan tempat di mana lukisan mural itu berada, merupakan bangunan cagar budaya yang sudah berusia tua. Dalam upaya pelindungan lukisan mural, Uzin memadukan konsep dan teknologi modern pada bangunan cagar budaya. Sebagai Kepala PKCB, tentu saya sangat mengapresiasi apa yang dilakukan Uzin,” kata Norviadi saat ditemui di Museum Kesejarahan Jakarta, Rabu (14/9/2026).

Kepala Pusat Konservasi Cagar Budaya (PKCB) DKI Jakarta Norviadi Setio Husodo. (Foto: Istimewa)

Ia berharap, kegiatan uji teknis yang dilakukan Uzin terhadap upaya pelindungan lukisan mural, bisa diterapkan pada obyek-obyek cagar budaya lainnya. Dengan catatan, katanya, jika  kegiatan menghentikan laju kapilrasi air dari dalam tanah ini berhasil.

“Apa yang saat ini dilakukan Uzin, masih proses dan belum menjadi hasil dan kesimpulan. Ibaratnya jika ke dokter, ada rekam medik. Jadi ada proses yang harus dilaporkan secara berkala dari apa yang sedang dilakukan. Bisa per minggu atau bulan, sehingga di laporan akhir nanti bisa ditarik kesimpulan apakah kegiatan uji teknis ini berhasil secara ilmiah dan aplikatif terhadap obyeknya secara langsung, atau perlu perbaikan. Jika kemudian hasil akhirnya berhasil, maka uji teknis menggunakan metoda dan teknologi injeksi dari Uzin ini bisa diterapkan di bangunan cagar budaya lainnya. Paling tidak, kita apresiasi apa yang dilakukan Uzin dalam upaya melindungi lukisan mural di Museum Kesejarahan Jakarta dari kerusakan yang lebih parah,” Norviadi menjelaskan.

Apresiasi serupa juga mengalir dari Ketua Tim Ahli Pelestarian (TAP) DKI Jakarta, Arya Abieta. “Saya tentu sangat mengapresiasi usaha yang saat ini dilakukan Uzin sebab sepengetahuan saya sejauh ini tidak ada usaha untuk mengonservasi atau melindungi lukisan mural dari kerusakan. Semua orang tahu bahwa dari hari ke hari, kualitas lukisan mural terus menurun, tetapi tidak ada usaha yang dilakukan secara optimal dan tepat,” kata Arya.

Ketua Tim Ahli Pelestarian (TAP) DKI Jakarta Arya Abieta. (Foto: Improvement/Hasanuddin)

Sebagai Ketua TAP DKI Jakarta, ia berharap apa yang dilakukan Uzin tidak berdampak negatif terhadap cagar budaya. “Ketika bertemu Pak Sugi, saya mencoba memahami bahan apa yang digunakan dan memastikan bahwa apa yang dilakukan tidak berdampak negatif terhadap cagar budaya. Teknologi injeksi pada pondasi bangunan, sudah banyak dilakukan. Tetapi apa yang dilakukan Uzin, adalah menutup jalur-jalur air yang akan merambat ke atas. Semoga ini berhasil,” katanya.

Jika metode dan teknologi ini berhasil, katanya, maka upaya mengatasi kelembapan pada dinding, terutama bangunan cagar budaya, sudah diketahui. Sebab kelembapan pada dinding menjadi salah satu sumber yang merusak kondisi fisik bangunan cagar budaya.

Kajian Cat dan Jamur

Tetapi, sambungnya, perlu juga dilakukan kajian apakah cat yang digunakan pelukis Hariadi itu memang layak untuk digunakan pada media dinding atau tidak. Pihaknya berharap ada penelitian mengenai bahan cat yang digunakan pada lukisan mural tersebut.

Ia menilai lukisan mural karya Hariadi di Museum Kesejarahan Jakarta, penting untuk dilestarikan meski secara khusus belum ditetapkan sebagai cagar budaya. “Mengingat nilai penting yang terkandung dalam lukisan tersebut dan mengingat usia pembuatannya sudah lebih dari 50 tahun, saya kira penting melakukan upaya-upaya pelestariannya,” ujarnya.

Apresiasi juga datang dari tenaga teknis laboratorium PKCB DKI Jakarta, Rika Yulia Putri. Ditemui terpisah, Rika mengatakan bahwa berdasarkan pengamatannya secara langsung, lukisan mural di Museum Kesejarahan Jakarta memang sudah mengalami kerusakan.

Kerusakan yang terjadi berupa cat yang mengelupas. “Ciri-ciri tersebut salah satunya mengindikasikan adanya jamur, yang pertumbuhannya dipicu oleh faktor lingkungan yaitu kelembapan yang tinggi,” kata Rika.

Tim Teknis Laboratorium PKCB DKI Jakarta Rika Yulia Putri. (Foto: Improvement/Hasanuddin)

Menurutnya, untuk perawatan koleksi, kelembapan yang ideal sekitar 45 – 55 persen dengan rentang suhu 18 – 22 derajat Celcius. “Mengingat lukisan mural menempel langsung di bagian dinding, kadar air pada dinding yang bisa ditoleransi sekitar 15 – 20 persen. Ketika kadar air atau kelembapannya di atas 20 persen, maka akan terjadi kelembapan tinggi. Hal ini lah yang memicu pertumbuhan jamur, yang kemudian akan merusak dinding dan dalam hal ini yang terkena dampak langsung adalah lukisan mural. Jadi menurut saya, upaya yang saat ini dilakukan Uzin yaitu mengentikan laju kapilarisasi air dari bawah tanah yang menjadi pemicu kelembapan tinggi pada dinding, adalah upaya yang tepat,” kata wanita sarjana biologi ini.

Lukisan Mural

Lukisan Mural karya Hariadi Sumodidjojo dibuat tahun 1974, setelah Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin meminta Hariadi untuk membuatkan lukisan mural seiring peresmian Museum Sejarah Jakarta pada 30 Maret 1974.

Lukisan mural dibuat secara langsung di dinding yang membentang sepanjang sekitar 10 meter dengan tinggi sekitar 6 meter dan dibuat menggunakan teknik lukis dinding dengan cat berbasis air (water based).

Menghadirkan tema yang beragam, tentang kehidupan masyarakat di kota Batavia dalam rentang tahun 1880-1920. Menariknya, lukisan mural itu belum sepenuhnya selesai. Sebagian besar masih berupa sketsa, yang terlukis indah di dinding.

Mural ini mengisahkan perjalanan panjang Batavia secara visual dan kronologis. Melalui gaya realisme naratif yang menjadi ciri khasnya, Harijadi menyajikan rentetan peristiwa mulai dari masa kerajaan Nusantara, kedatangan kolonial Belanda, dinamika sosial masyarakat Batavia, hingga pergerakan menuju kemerdekaan.

Tema utama mural ini adalah perjuangan rakyat menghadapi penjajahan, dengan penekanan pada resistensi, kehidupan sehari-hari dan kontribusi masyarakat lokal dalam membentuk sejarah kota.

Hariadi Sumodidjojo sendiri merupakan seniman besar Tanah Air. Namanya bisa disejajarkan dengan S Sudjojono. Ia bahkan pernah terlibat kerja bareng ketika mengerjakan mural relief batu di Bandara Kemayoran, Jakarta.

Pengetahuannya tentang mural didapat Hariadi ketika dikirim Presiden Soekarno ke Meksiko pada 1965 untuk mempelajari mural dan museum, dengan tujuan mengisi Monumen Nasional (Monas) dengan karya-karya monumentalnya.

Seiring berjalannya waktu, kondisi lukisan mural karya Hariadi Sumodidjojo, cukup memrihatinkan. Banyak bagian lukisan yang warnanya sudah mengelupas (hilang) dan memudar. (Hasanuddin)

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button