
Menteri Kebudayaan: Merawat Bangunan Bersejarah Butuh Teknologi
Merawat bangunan bersejarah tak cukup hanya menjaga bentuknya secara fisik. Juga dibutuhkan pengetahuan tentang cara merawatnya.
JAKARTA, Improvement – Sejarah Indonesia merentang amat panjang, sejak era manusia belum mengenal tulisan (pra-sejarah) hingga sekarang ini.
Bukti-bukti peradaban tua manusia Indonesia begitu banyak ditemukan di berbagai wilayah di Indonesia. Mulai dari penemuan fosil manusia purba seperti Pithecanthropus Erectus (diperkirakan hidup 750.000 – 1.000.000 tahun lalu) di Trinil (Jawa Timur), lukisan gua di Muna, Sulawesi Selatan (berusia 67.800 tahun), bangunan megalitik semisal Gunung Padang di Cianjur, hingga percandian, masjid kuno, benteng, dan sebagainya.
Hanya sebagian kecil dari jejak peradaban itu yang sampai ke tangan kita, saat ini. Dan, dari sebagian kecil itu, banyak yang mengalami kerusakan dan bahkan musnah karena berbagai sebab.
Upaya pelestarian menjadi mutlak dilakukan agar jejak peradaban manusia Indonesia di masa lalu, bisa sampai ke generasi-generasi mendatang. Bukan tugas yang mudah. Tetapi upaya pelestarian harus tetap dilakukan.
Namun, dalam upaya pelestarian itu sering kali kita dihadapkan pada persoalan keterbatasan pengetahuan dan teknologi. Banyak benda maupun bangunan cagar budaya yang justru mengalami kerusakan parah ketika dilakukan pelestarian. Salah satunya adalah karena penggunaan material yang tidak tepat yang dipicu oleh keterbatasan pengetahuan dan teknologi.
Dalam konteks itu, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyambut gembira ketika diperkenalkan kepada ahli konservasi bangunan bersejarah yang menempuh pendidikan di Jerman, Sugiarto Goenawan. Di ruang kerjanya, Fadli Zon diperkenalkan teknologi dan metode dalam upaya pelestarian bangunan cagar budaya oleh Sugiarto.
Hal itu terungkap dalam cuitan Fadli Zon di akun instagramnya pada Selasa (6/10/2026). “Merawat bangunan bersejarah juga membutuhkan teknologi,” kata Fadli Zon.
“Dalam pertemuan dengan Haposan Paulus Batubara di Kementerian Kebudayaan, saya mendapat penjelasan mengenai pendekatan konservasi dari Sugiarto Goenawan, ahli konservasi bangunan bersejarah yang menempuh pendidikan di Jerman. Ia memperkenalkan teknologi dan metode untuk menangani kelembapan serta kapilaritas yang dapat memengaruhi kondisi bangunan,” sambungnya.
Menurutnya, merawat bangunan bersejarah tak cukup hanya menjaga bentuknya. Tapi juga butuh pengetahuan tentang cara merawatnya.“Bagi Indonesia, ini penting karena bangunan bersejarah yang kita miliki tidak cukup hanya dijaga bentuknya. Pengetahuan tentang cara merawatnya juga harus terus berkembang agar bangunan tersebut dapat bertahan lebih lama,” pungkasnya.
Ahli Kimia Polimer
Sugiarto Goenawan merupakan pria asal Malang, Jawa Timur. Ia mulai tertarik kimia ketika masih duduk di bangku SMP, justru ketika belum mengenal pelajaran kimia. Ia membuka buku kimia milik kakaknya yang sudah duduk di bangku SMA.
Saat SMA, Sugiarto semakin menyenangi pelajaran kimia. Selepas SMA, atas saran sang paman, ia melanjutkan studi ke Jerman (Universität Stuttgart) pada 1990. Di sini ia mendalami kimia polimer, yang menjadi keahliannya hingga sekarang ini.
Ia senang bereksperimen. Skripsinya bahkan hasil eksperimennya sendiri tentang lem yang terbuat dari bahan terbarukan, yang tidak lengket di tangan dan bisa dijual dengan harga sangat murah di pasar.
Temuannya itu menarik minat UHU. Perusahaan raksasa asal Jerman itu bahkan berencana mendirikan pabrik di Indonesia, khusus untuk memroduksi lem ciptaan Sugiarto. “Tetapi tidak jadi sebab saat itu Indonesia sedang dilanda krisis ekonomi pada tahun 1997-1998,” ceritanya suatu ketika kepada Improvement.
Tak jadi di UHU, temuannya itu ia bawa ke Uzin, produsen kimia raksasa lainnya di Jerman yang lebih dikenal produsen semen instan (mortar). Di Uzin, Sugiarto yang baru lulus kuliah, langsung diangkat sebagai Project Manager dan ditempatkan di Shanghai, China. Di Negeri Tirai Bambu, Sugiarto mengembangkan berbagai produk baru, yang disesuaikan dengan iklim di sana.
Namun tak lama. Jiwa nasionalismenya tetap kental meski lama di negeri orang. Pada 2002 ia mengajukan proposal untuk mendirikan Uzin di Indonesia. Dan, disetujui.
Menurut Sugiarto, hanya di Indonesia, Uzin bisa berdiri secara joint venture. Sementara di negara-negara lainnya di dunia, ada 50 negara, Uzin berdiri sebagai pemegang saham penuh alias tidak joint venture.
Lebih 20 Penemuan di 50 BCB
Ketertarikannya pada bangunan cagar budaya (BCB) dimulai ketika ia diminta terlibat dalam pemugaran Gedung AA Maramis di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat pada 2021. Sejak itu hingga September 2026, Uzin sudah terlibat setidaknya di 50 bangunan cagar budaya di Indonesia. Mulai dari benteng, bangunan tua dari masa kolonial, masjid tua, gereja tua, sekolah, museum, Candi Ijo, Monas, hingga lukisan mural.
Uzin memperlakukan penanganan pelestarian bangunan cagar budaya secara berbeda. Disesuaikan dengan kondisi iklim, karakter bangunan, material, tingkat kelembapan bangunan, dan sebagainya.
Di beberapa bangunan cagar budaya, ia selalu berkesperimen untuk menemukan material yang tepat digunakan. Selama lima tahun (2021-2026), setidaknya ia sudah menemukan lebih dari 20 produk baru untuk pelestarian cagar budaya di Indonesia. Temuan-temuannya itu diberi kode SC (Stone Coating) dan LS (Liquid Stone) dan di belakangnya diberi nomor.
Misalnya saja SC 51, yang ia ciptakan khusus untuk konservasi lukisan mural di Museum Kesejarahan Jakarta. Produknya berupa cairan.
Bahannya terdiri atas beberapa zat. “Sebagian harus impor, karena tidak ada di Indonesia. Lalu kami modifikasi dengan bahan dari lokal Indonesia. Sebab zat yang impor itu diperuntukkan bagi negara-negara di Eropa yang memiki iklim dingin, sementara Indonesia beriklim tropis. Formula cairan ini berbasis air dan sepenuhnya bebas dari pelarut keras (solvent free), sehingga aman digunakan pada material organik seperti cat mural,” Sugi menjelaskan.

Pada Maret 2025, ia mendapat kesempatan melakukan uji coba. Kala itu, ia membuka dua bidang di dinding luar bagian utara dan selatan berukuran sekitar 1 meter x 1 meter. Di atas ketinggian sekitar 20 cm dari permukaan lantai, ia dan timnya mulai menyuntikkan SC 51 ke sela-sela bata merah. Ada 20 titik yang diinjeksi.
Tetapi, metoda itu saja tidak cukup. Tindakan itu baru horizontal barrier. Setelah melakukan injeksi, ia kemudian menutup kembali bidang uji coba dengan plester bernapas, anti air, dan kering. Kedua tindakan itu diamati secara berkala. Setelah tiga bulan, hasilnya menunjukkan positif. Tingkat kelembapan dinding bagian dalam di bidang yang diujicoba, mengalami penurunan signifikan.
Hasil itu menjadi bekal bagi Uzin untuk mengajukan upaya penyelamatan lukisan mural di Museum Kesejarahan Jakarta, dengan membuka bidang lebih luas. Gayung bersambut. Dinas Kebudayaan DKI Jakarta menyetujuinya melalui Surat tertanggal 13 Agustus 2026.
Berbekal surat ini, Sugi dan tim Uzin kini tengah melakukan pembobokan di seluruh dinding luar ruangan mural.
“Sebenarnya jika ingin hasilnya sempurna, injeksi harus dilakukan di dua sisi yaitu dinding luar dan dalam. Tetapi dinding bagian dalam tidak memungkinkan, sebab ada lukisan mural. Paling tidak, tindakan yang kami lakukan bisa menyelamatkan lukisan mural dari kelembapan dari kerusakan lebih parah,” pungkasnya. (Hasanuddin)

