NewsQHSSESustainability

Prof Tan Malaka, Tokoh K3 Nan Gigih & Konsisten Tutup Usia

Prof Tan Malaka dikenal sebagai salah satu tokoh K3 Indonesia yang gigih dan konsisten. Terakhir menjabat sebagai Ketua Advisory Board Indonesian Network of Occupational Health and Safety Professionals (INOSHPRO).

JAKARTA, Improvement – Indonesia kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya di bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Prof Dr Tan Malaka, MOH, DrPH, SpOk, HIU, tutup usia pada Kamis (17/9/2026) pukul 11.57 di ICU RSMH Palembang, Sumatera Selatan, karena sakit yang dideritanya.

Kabar duka yang mendadak ini sempat menghentak para pegiat K3. Betapa tidak, sepanjang hidupnya almarhum dikenal begitu aktif dan gigih dalam menyuarakan K3 di Indonesia. Bicaranya lantang, demi kemajuan K3 di Indonesia.

Ucapan duka menghiasi sejumlah WAG K3. Hingga berita ini diturunkan, belum diketahui pasti penyakit yang diderita almarhum.

Alharhum meninggal dalam usia 80 tahun enam bulan (kelahiran Palembang, 31 Maret 1946). Meninggalkan seorang istri, empat anak, dan tujuh cucu.

Menamatkan studi di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Palembang pada 1974. Ia lulus sebagai medikus praktikus.

Perkenalannya dengan kesehatan kerja terjadi ketika almarhum menempuh pendidikan S2 di Filipina pada 1978. Saat itu ia memilih topik Occupational Health (OH) di School of Public Health University of The Philippines.

Keinginan untuk menempuh pendidikan di luar negeri memang sudah ada sejak almarhum duduk di bangku SMA. “Sejak SMA saya merasa berkeinginan besar untuk sekolah di luar negeri dan pada waktu kesempatan itu muncul di tahun 1978 saya memilih topik S2 Occupational Health (OH) di School of Public Health University of The Philippines,” kata Prof Tan sebagaimana dinukil dari buku ‘100 Tokoh K3 Indonesia.’

Perkenalan dengan K3

Di Filipina ini lah, almarhum untuk pertama kalinya diperkenalkan dengan dunia Occupational Health and Safety (OSH/K3) oleh dua pengajarnya, Prof Dr F Jose (Harvard Graduate) dan Prof Lina C Somera (graduate of Cincinnati University). Setahun kemudian (1979), almarhum lulus dan menyandang gelar MOH.

Namun sepulangnya dari Filipina, ia merasa sedikit kecewa lantaran aspek K3 belum menjadi perhatian di lingkungannya bekerja, Unsri. Situasi ini dialaminya hingga bertahun-tahun kemudian.

Pada awal tahun 1980-an, gerakan lingkungan menggelora hebat di Indonesia yang dimotori Prof Dr Emil Salim yang kala itu menjabat sebagai Menteri Lingkungan Hidup. Saat itu, Unsri diminta Prof Emil Salim untuk mendirikan Pusat Studi Lingkungan (PSL).

Untuk mengurus organisasi yang baru dibentuk ini, rektor Unsri meminta dr Tan Malaka, MOH menjadi ketua. Kala itu, almarhum menjadi dekat dengan Prof Emil Salim karena harus bolak-balik Palembang-Jakarta.

Pada 1985, Tan Malaka terbang ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studinya ke jenjang Dokotral. Di Negeri Paman Sam ini, ia memilih University of Hawaii di Manoa, AS. Di sinilah minat mengembangkan ilmu Kesehatan Kerja kembali bergairah. Ia mengambil kesehatan publik sebagai tema program doktoralnya dengan simpul penelitian di Gresik, Jawa Timur.

Tiga tahun kemudian (1988) ia lulus dan berhak menyandang gelar DrPH. Namun, sekembalinya ke Palembang, lagi-lagi ia menelan pil kekecewaan. Ia merasa tak diberikan tempat oleh pimpinan Unsri.

“Kembali ke Palembang Indonesia, terjadi lagi stagnasi dalam karier saya karena pimpinan universitas sama sekali tidak punya plan untuk SDM dengan level doktoral yang baru selesai dari mancanegara. Rektornya adalah seorang politisi Golkar dengan tipe pemikiran BAU (business as usual),” katanya.

Selamat Jalan Prof Tan Malaka…..

Beruntung, Rektor Universitas Indonesia memintanya untuk mengajar di FKM UI dalam bidang Kesehatan Kerja. Pada saat yang sama, ia mendapat informasi bahwa Shell, perusahaan raksasa migas, membutuhkan dokter perusahaan. Ia pun langsung melamar dan diterima. Sejak itulah, ia tak hanya mendalami dunia kesehatan kerja tetapi juga keselamatan kerja (K3).

Dari perusahaan migas, ia pernah bekerja di berbagai perusahaan dan kian aktif di dunia K3 Indonesia. Ia bahkan sempat menjadi Ketua Perhimpunan Hygiene Professional Indonesia yang kini lebih dikenal dengan nama Indonesian Industrial Hygiene Association (IIHA). Dan pada 2023, ia dipercaya sebagai Ketua Advisory Board INOSHPRO.

Selamat jalan Prof Tan Malaka……(Hasanuddin)

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button