ESGEventInfrastructureSustainability

Korosi, Rugikan Negara Triliunan dan Ancam Keselamatan Publik

Kerugian akibat korosi di Indonesia mencapai sekitar 3 hingga 4 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau setara triliunan rupiah setiap tahunnya. Kerugian besar ini berdampak langsung pada sektor ekonomi, ketahanan infrastruktur, serta keselamatan publik.

KUALALUMPUR, Improvement – Jangan anggap remeh korosi (karat). Data Kementerian Perindustrian menyebutkan, kerugian akibat korosi di Indonesia mencapai sekitar 3 hingga 4 persen dari PDB atau setara triliunan rupiah setiap tahunnya.

Selain ekonomi, korosi juga bisa mengancam keselamatan publik. Retakan, kebocoran pipa, hingga runtuhnya konstruksi sering diawali dari kerusakan kecil akibat karat. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menegaskan bahwa korosi menjadi penyebab utama penurunan integritas struktur baja di sektor transportasi dan energi.

Korosi juga berdampak pada lingkungan. Kebocoran dari tangki atau pipa yang terkorosi bisa mencemari tanah dan air. Limbah baja yang rusak juga menambah beban lingkungan. Hal ini diperkuat oleh laporan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang menyoroti dampak limbah industri akibat material korosif.

HDG Forum 2026

Korosi bukan problem Indonesia, tetapi juga global. Korosi merupakan musuh bersama. Korosi dapat dicegah dengan strategi pelapisan yang tepat.

Topik itu mengemuka dalam acara Hot Dip Galvanizing Forum yang dihelat di Putrajaya, Malaysia, baru-baru ini. Acara yang diselenggarakan Galvanizers Association of Malaysia (GAM) ini menyedot perhatian para pelaku industri baja di kawasan Asia Tenggara. Lebih dari 250 orang dari negara-negara ASRAN hadir.

“Forum ini difokuskan untuk mengeksplorasi secara mendalam perkembangan terkini teknologi pelapisan baja (hot dip galvanizing/HDG) serta aplikasinya pada berbagai proyek infrastruktur strategis, baik berskala nasional maupun regional,” kata P. Indra Laksmana, delegasi Indonesia yang hadir di sana, dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi.

Menurut Waketum Indonesian Society of Steel Construction (ISSC) itu, antusiasme para peserta sangat tinggi. Kapasitas acara dilaporkan telah terisi penuh oleh sekitar 250 peserta jauh sebelum hari pelaksanaan.

Dikatakan, fakta di lapangan, teknologi pelapisan baja tak hanya dapat meningkatkan umur layanan (life expectancy) konstruksi. Tetapi juga  menekan biaya operasional dan pemeliharaan.

“Sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan infrastruktur paling masif di kawasan ASEAN, partisipasi Indonesia menjadi sorotan penting,” jelas Indra Laksmana.

Selain itu hadir juga Dave Soetomo, perwakilan dari Asosiasi Galvanis Indonesia (AGI), yang memimpin delegasi. “Kehadiran kami merepresentasikan komitmen teguh Indonesia dalam mengadopsi dan mengimplementasikan standar global pelindungan korosi demi keberlanjutan investasi infrastruktur jangka panjang,” jelasnya.

Jembatan Besuk Kobokan

Dalam forum regional itu, Indonesia mengangkat studi kasus Jembatan Besuk Kobokan, sebagai salah satu proyek konstruksi yang telah menerapkan HDG. Jembatan itu menghubungkan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur. Proyek vital ini menggunakan konstruksi rangka baja Pratt Truss Bridge dengan tonase baja mencapai 2.000 ton.

Jembatan yang membentang sepanjang 140 meter dengan lebar 12,5 meter itu dirancang khusus tanpa pilar penyangga di bagian tengah. Desain inovatif  diterapkan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi bencana banjir lahar dingin dari Gunung Semeru di masa depan.

Mengingat perannya sebagai infrastruktur penghubung utama, aplikasi teknologi HDG berstandar ASTM A123 diterapkan secara penuh. Dengan ketebalan pelapisan galvanis minimum 100 mikron untuk kategori korosi C3, struktur ini didesain agar memiliki umur layanan (life expectancy) hingga 100 tahun. Proteksi antikarat yang superior ini menjamin keutuhan struktur (structural integrity) jangka panjang tanpa biaya perawatan yang berlebihan.

Diskusi teknis sepanjang forum terus menegaskan keunggulan HDG. “Dibandingkan dengan pelapisan konvensional, proses pencelupan baja ke dalam seng cair pada temperatur tinggi ini memberikan jangkauan perlindungan 360 derajat. Lapisan seng meresap dan melindungi bahkan pada area tersulit seperti rongga dalam pipa dan sudut tajam,” tambah Indra yang menjabat Direktur PT. Citra Galvanis Indonesia.

Alhasil dengan meminimalisasi siklus perbaikan dan penggantian struktur, HDG secara langsung mendukung agenda pengurangan emisi karbon dan prinsip infrastruktur berkelanjutan (sustainable infrastructure).

Penyelenggaraan HDG Forum 2026 memperkokoh relasi industri lintas batas. Melalui wadah ini, pemilik proyek, konsultan, dan pelaku industri baja dapat saling bertukar pengalaman dan praktik terbaik.

Seiring pesatnya laju pertumbuhan dan kompleksitas pembangunan di Asia Tenggara, manajemen korosi berbasis HDG bukan lagi sekadar opsi spesifikasi teknis, melainkan investasi strategis mutlak.

Kolaborasi antara pelaku industri dalam negeri seperti ISSC dan AGI dengan pakar internasional dipastikan akan membawa standardisasi konstruksi baja kawasan ke tingkat yang jauh lebih tinggi dan berdaya saing global. (*/Hasanuddin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button