
DK3P Jatim Dorong K3 Inklusif bagi Penyandang Disabilitas
Perusahaan tak cukup hanya membuka kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas. Tetapi juga harus memastikan lingkungan kerja yang aman, sehat, aksesibel, dan siap menghadapi berbagai kondisi darurat.
SURABAYA, Improvement – Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan hak setiap pekerja, tanpa memandang kondisi fisik maupun kemampuan yang dimiliki.
Berangkat dari semangat tersebut, DK3P Jawa Timur menyelenggarakan Disabilitas Awareness K3 bertajuk “K3 Inklusif: Keselamatan Tanpa Batas, Kesempatan Tanpa Diskriminasi” dengan tagline “Safe Workplace for Everyone, Leaving No One Behind.”
Kegiatan yang digelar di Batik Wistara, Kecamatan Rungkut, Surabaya, ini diikuti sekitar 30 pekerja penyandang disabilitas bersama pengelola yayasan.
Batik Wistara yang berada di bawah naungan Yayasan AORA merupakan pusat pelatihan dan pemberdayaan penyandang disabilitas yang berfokus pada pengembangan keterampilan, kemandirian, dan pemberdayaan ekonomi.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu langkah nyata DK3P Jawa Timur dalam memperluas implementasi budaya K3 yang inklusif. Tidak hanya berorientasi pada kepatuhan terhadap regulasi, tetapi juga memastikan setiap pekerja memperoleh hak yang sama atas perlindungan keselamatan, kesehatan kerja, serta kesempatan untuk bekerja secara aman, sehat, dan bermartabat.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut jajaran Pengurus DK3P Jawa Timur, yaitu Wakil Ketua DK3P Jawa Timur Edi Priyanto, Karto Trisasmito, Neffrety Nilamsari, Bondan Winarno, dan Bagus Satriyo, sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan budaya K3 yang ramah bagi seluruh pekerja.
Sebagai mitra strategis Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam pembinaan dan pengembangan K3, DK3P Jawa Timur meyakini bahwa keberhasilan penerapan K3 tidak hanya diukur dari rendahnya angka kecelakaan kerja. Tetapi juga dari kemampuan organisasi memberikan pelindungan kepada seluruh pekerja, terutama kelompok rentan seperti penyandang disabilitas.
Kegiatan diawali dengan Safety Induction, di mana seluruh peserta memperoleh pembekalan mengenai tata tertib kegiatan, jalur evakuasi, titik kumpul (assembly point), serta prosedur keselamatan yang harus dipatuhi selama mengikuti pelatihan. Sesi ini menjadi pengingat bahwa budaya keselamatan selalu dimulai dari kesadaran untuk melindungi diri sendiri sebelum melindungi orang lain.
![]()
Keselamatan Tanpa Batas Harus Jadi Komitmen
Wakil Ketua DK3P Jawa Timur, Edi Priyanto, menegaskan bahwa keselamatan kerja tidak boleh berhenti pada pemenuhan standar administrative. Tetapi harus menjadi budaya yang mampu melindungi setiap pekerja tanpa diskriminasi.
“K3 merupakan hak dasar setiap pekerja, termasuk penyandang disabilitas. Karena itu, penerapan K3 harus bersifat inklusif dengan memastikan setiap pekerja memperoleh pelindungan, akses informasi, kesempatan mengikuti pelatihan, serta fasilitas keselamatan yang dapat dijangkau oleh semua tanpa diskriminasi,” ujarnya.
Menurut Edi, perusahaan tidak cukup hanya membuka kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas. Tetapi juga harus memastikan lingkungan kerja yang aman, sehat, aksesibel, dan siap menghadapi berbagai kondisi darurat.
“Ketika sebuah perusahaan mampu melindungi pekerja disabilitas dengan baik, sesungguhnya standar keselamatan bagi seluruh pekerja ikut meningkat. Keselamatan tanpa batas bukan sekadar slogan, tetapi komitmen agar tidak ada seorang pun yang tertinggal dalam memperoleh pelindungan di tempat kerja,” tambahnya.
Sementara itu, Yosi, perwakilan manajemen Batik Wistara, menyampaikan apresiasi kepada DK3P Jawa Timur atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, kolaborasi ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat budaya keselamatan di lingkungan kerja yang mempekerjakan penyandang disabilitas.
“Kami sangat mengapresiasi kolaborasi bersama DK3P Jawa Timur yang telah membuka ruang edukasi keselamatan bagi anak-anak istimewa di LKP Aora. Pelatihan K3 ini bukan sekadar transfer ilmu, melainkan sebuah pengakuan atas hak keselamatan yang setara bagi anak-anak disabilitas. Melalui bekal mitigasi risiko ini, mereka dilatih untuk mandiri secara aman di lingkungan kerja yang minim stigma.” katanya.
Pada sesi utama, peserta mendapatkan materi Awareness K3 bagi pekerja disabilitas. Pada sesi ini dibahas identifikasi potensi bahaya, pengendalian risiko, perilaku kerja aman, penyediaan fasilitas kerja yang aksesibel, hingga pentingnya membangun budaya keselamatan yang melibatkan seluruh pekerja tanpa terkecuali.
Suasana pelatihan berlangsung hangat dan interaktif. Para peserta aktif berbagi pengalaman mengenai tantangan yang mereka hadapi di lingkungan kerja, sekaligus berdiskusi mengenai solusi agar sistem keselamatan dapat lebih mudah diakses oleh seluruh pekerja.
Dialog tersebut menunjukkan bahwa penerapan K3 yang inklusif tidak hanya membutuhkan fasilitas yang memadai, tetapi juga perubahan cara pandang seluruh pihak terhadap pentingnya kesetaraan dalam keselamatan kerja.
Merasa Dihargai
Sebagai implementasi dari materi yang diberikan, peserta mengikuti simulasi kebakaran di tempat kerja. Melalui simulasi ini, peserta mempraktikkan prosedur tanggap darurat, teknik penyelamatan diri, penggunaan jalur evakuasi, serta pentingnya koordinasi antarpekerja ketika menghadapi situasi darurat.
Pengalaman langsung tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesiapsiagaan sekaligus membangun kepercayaan diri peserta dalam menghadapi risiko di lingkungan kerja.
Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap peningkatan kesiapsiagaan di tempat kerja, DK3P Jawa Timur juga menyerahkan bantuan berupa Alat Pemadam Api Ringan (APAR), kotak Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K), stiker jalur evakuasi, serta stiker titik kumpul (assembly point) kepada Batik Wistara.
Bantuan tersebut diharapkan semakin memperkuat implementasi K3 sekaligus mendukung terciptanya lingkungan kerja yang aman dan aksesibel bagi penyandang disabilitas.
Salah seorang peserta, Devi, mengaku memperoleh pengalaman yang sangat berharga melalui kegiatan tersebut.
“Selama ini kami lebih banyak mendapatkan pelatihan keterampilan kerja, sedangkan edukasi mengenai keselamatan kerja masih sangat terbatas. Melalui kegiatan ini kami menjadi lebih memahami cara mengenali bahaya, melindungi diri, serta mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika terjadi keadaan darurat. Kami merasa dihargai karena memperoleh kesempatan belajar yang sama,” ungkapnya.
Kegiatan ditutup dengan penyerahan bantuan sarana K3, sesi foto bersama, dan komitmen seluruh peserta untuk terus menumbuhkan budaya keselamatan yang inklusif di lingkungan kerja masing-masing.
Melalui kegiatan Disabilitas Awareness K3, DK3P Jawa Timur berharap semangat “K3 Inklusif: Keselamatan Tanpa Batas, Kesempatan Tanpa Diskriminasi” dapat terus diimplementasikan di berbagai sektor usaha.
Kegiatan ini juga diharapkan menjadi best practice bagi perusahaan dalam membangun Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yang lebih inklusif, adaptif, dan berkeadilan.
Bagi DK3P Jawa Timur, K3 bukan sekadar kewajiban memenuhi regulasi. Melainkan investasi jangka panjang untuk meningkatkan produktivitas, kesejahteraan pekerja, dan keberlanjutan organisasi. Karena pada akhirnya, tempat kerja yang benar-benar aman adalah tempat kerja yang mampu melindungi setiap orang tanpa terkecuali.
“Safe Workplace for Everyone, Leaving No One Behind.” (*/Hasanuddin)



