FIRE SAFETYKampusSustainability

Pengmas UI Gelar Workshop K3L untuk Pengelola Museum Nasional Indonesia

Pembekalan materi lebih difokuskan pada upaya tanggap darurat ketika bencana melanda Museum Nasional Indonesia (MNI).

JAKARTA, Improvement – Museum Nasional Indonesia (MNI) di Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, mengalami kebakaran hebat pada Sabtu (16/9/2023) malam.

Kala itu, kobaran api melumat sebagian gedung A (gedung lama) bagian belakang. Meruntuhkan sebagian atap dan dinding.

Bangunan terdampak kebakaran berada di sisi barat gedung A. Meliputi Galeri Prasejarah, Galeri Perunggu, Galeri Peradaban Islam, Galeri Terakota, Galeri Keramik, Ruang Budaya Indonesia, dan Ruang Alam Indonesia.

Luas area terbakar 1.792,12 meter persegi dari total luas area gedung A sebesar 7.391,88 meter persegi. Sebanyak 902 total koleksi terdampak kebakaran.  231 di antaranya dari galeri keramik, 49 dari galeri peradaban, 92 dari galeri perunggu, 225 dari galeri prasejarah, 180 dari galeri terakota, dan 125 dari ruang kebudayaan Indonesia.

Klasifikasi tingkat kerusakan fisik koleksi dibagi menjadi tiga, yakni tinggi sebesar 27,4 persen, sedang 28,2 persen, dan rendah 44,4 persen.

Sedangkan jenis koleksi yang terbakar, 25,7 persen merupakan koleksi keramik, 25,3 persen koleksi prasejarah. Lalu 24,3 persen koleksi arkeologi, 24,5 persen koleksi etnografi, dan 0,2 persen koleksi numismatik, heraldik.

Kerugian yang dialami, tentu saja tak bisa diukur dan ditakar secara rupiah. Sebab nilai penting yang terkandung di dalam setiap koleksi cagar budaya tersebut, tak bisa ditakar dengan uang.

Salah satu koleksi yang rusak parah akibat kebakaran adalah nekara perunggu. Koleksi yang berasal dari kebudayaan Dongson (1000 SM – abad 1 SM) ini mengalami kerusakan klasifikasi tinggi. Kebakaran tak lagi bisa mengembalikan Nekara yang dibuat lebih dari 2.000 tahun silam tersebut.

Workshop K3L

Kebakaran museum terlengkap di Indonesia itu, tentu mengundang keprihatinan mendalam. Sebab di sana tersimpan jejak peradaban para pendahulu Indonesia, sejak masa Prasejarah hingga kini.

Kebakaran tak semata melumat bangunan gedung museum. Lebih dari itu, memusnahkan jejak budaya berupa aneka tinggalan arkeologis yang tersimpan di museum.

Berkaca dari kasus kebakaran tersebut, Pengabdian Masyarakat (Pengmas) Universitas Indonesia (UI) menggelar workshop K3L, Senin (3/11/2025). Mengusung tema “Museum Aman” woekshop ditujukan bagi pengelola MNI.

Prof Irmawati Marwoto dari Pengmas UI mengatakan, kegiatan workshop tersebut lebih ditujukan bagi pengelola MNI agar memiliki pengetahuan tentang K3L Dasar. “Sekaligus mengetahui upaya tanggap darurat ketika menghadapi bencana semisal kebakaran sebagaimana pernah terjadi di MNI,” kata Prof Irmawati.

Kegiatan yang dihadiri puluhan pengelola MNI itu menghadirkan Fadryanto, praktisi HSE dari Masyarakat Profesi Keselamatan Kebakaran Indonesia (MPK2I).

Dalam pemaparannya, Fadryanto menekankan pentingnya kesiapsiagaan dan respons kedaruratan bencana di institusi warisan budaya, termasuk museum.

“Ada tiga jenis bahaya yang membutuhkan tanggap darurat. Yaitu bencana alam, bencana non alam, dan bencana sosial. Kebakaran termasuk bencana non alam,” kata Fadryanto.

Terkait kebakaran, pria yang akrab disapa Abu ini menjelaskan terbentuknya api melalui teori segitiga api. Yaitu bahan bakar, sumber panas, dan oksigen. “Api tidak akan tercipta apabila salah satu dari unsur tersebut tidak ada,” katanya.

Sebagai praktisi HSE (K3L), Abu menjelaskan tentang pentingnya pembentukan tim tanggap darurat (Emergency Respons Team/ERT). Tim ini terdiri dari berbagai unsur dan bertugas mengelola kesiapsiagaan dan respons kedaruratan bencana di MNI.

Kegiatan workshop K3L Dasar untuk pengelola MNI ini juga dihadiri sejumlah mahasiswa dari Arkeologi UI, baik S1 maupun S2. Juga dihadiri oleh Dr Gilman Assilmi, Ka Prodi S1 Arkeologi FIB UI, dan Asep Herdiansyah, Kanit K3L FIB UI. (Hasanuddin)

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button