
Uzin Hadirkan Solusi Menyeluruh Bagi Upaya Konservasi Cagar Budaya Keraton Yogyakarta
Beragam produk PT Uzin Utz Indonesia dipresentasikan di hadapan para pengurus Keraton Yogyakarta dan para pengelola museum se-Yogyakarta.
YOGYAKARTA, Improvement – Keraton Yogyakarta merupakan living monument, yang sejak didirikan pada 1755 hingga saat ini masih berfungsi sebagai pusat pemerintahan.
Selama 270 tahun, Keraton Yogyakarta menyajikan secara lengkap aneka cagar budaya. Mulai dari artefak yang tak terhitung jumlahnya, bangunan, struktur, situs, maupun kawasan.
Aneka cagar budaya yang bernilai amat tinggi bagi sejarah, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan tersebut, kondisinya sudah banyak digerus waktu dan ditelan zaman. Upaya penyelamatan melalui berbagai langkah seperti konservasi dan restorasi, mutlak dilakukan guna keberlanjutan cagar budaya Keraton Yogyakarta.
“Konservasi menjadi bagian penting untuk preventif terhadap kelestarian benda-benda cagar budaya, khususnya di Keraton yang jumlahnya sangat banyak dan beragam,” kata Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara saat memberikan sambutan dalam acara Pawiyatan Konservasi Benda Cagar budaya Kayu dan Tekstil di Yogyakarta, Sabtu (13/12/2025).
Menurutnya, tantangan utama konservasi di Indonesia adalah keterbatasan narasumber bersertifikasi dan tenaga ahli dengan keahlian spesifik pada material tertentu.
Tidak semua kompetensi tersedia di dalam negeri, sementara mendatangkan ahli dari luar negeri juga memiliki risiko. Sebab metode konservasi belum tentu sesuai dengan kondisi iklim tropis Indonesia.
“Total koleksi Keraton lebih dari 100 ribu unit, mulai dari peralatan makan, perhiasan, porselen, kristal, hingga manuskrip sejak 1755. Justru dokumen dan manuskrip yang paling memakan waktu dalam proses konservasi,” ungkapnya.
Ia berharap, kegiatan pawitan konservasi yang diselenggarakan, tidak hanya ditujukan bagi peningkatan SDM di lingkungan Keraton semata.
“Harapannya, seluruh museum di Yogyakarta bisa naik kelas bersama. Yogyakarta adalah kota dengan jumlah museum terbanyak di Indonesia. Dan kami ingin membuktikan bahwa museum daerah mampu merawat warisan budaya, terutama di tengah isu pemulangan benda-benda cagar budaya ke Tanah Air,” pungkasnya.
Material ‘Penyelamat’ Cagar Budaya
Pihak penyelenggara menghadirkan sejumlah narasumber yang berkompeten di bidang konservasi. Antara lain Sussane Erhards dan Dr Nahar Cahyandaru, Kedua narasumber membahas tentang konservasi secara umum.
Untuk pembekalan konservasi bidang kayu, panitia penyelenggara menghadirkan Prof Dr Ir Widyanto Dwi Nugroh, S.Hut, M.Agr dan Warsono, S.Sn, M.A.
Sedangkan untuk pembekalan konservasi bidang tekstil kuno, dihadirkan Dian Novita Lestari, S.Si, M.Hum dan Anna Galuh Indreswari, S.Sn, M.A.
Guna melengkapi pembekalan pengetahuan di bidang konservasi, panitia menghadirkan Sugiarto Goenawan. Ahli kimia jebolan Jerman ini bicara tentang upaya penyelamatan cagar budaya, baik berupa bangunan mapun benda.
Dalam pemaparannya, ia antara lain menjelaskan bahwa salah satu penyebab kerusakan benda cagar budaya adalah kelembapan.
“Kelembapan ruangan sangat mempengaruhi kondisi barang barang yang terdapat dalam ruangan tersebut, Terutama yang berbahan kayu, kertas dan kulit (wayang). Sirkulasi udara yang baik akan mengurangi kelembapan pada suatu ruangan. Kondisi dinding dan lantai juga menentukan tingkat kelembapan ruangan,” kata Sugiarto.

Kelembapan bisa terjadi karena ada intrusi air dari bawah tanah ke bagian dinding. Hal ini bisa diatasi dengan cara membuat pembatas horisontal pada dinding agar air tidak mengalami kapilarisasi.
Untuk itu, PT Uzin Utz Indonesia memroduksi SC 51 horizontal barrier. “Cairan berbahan Silane Siloxane micro emulsion disuntikkan ke dalam dinding pada posisi 20 cm di atas tanah. Setiap 10-15 cm, cairan meresap dengan density lebih tinggi dari air, sehingga otomatis turun dan mencegah naiknya air ke atas,” Sugiarto menjelaskan.
Dikatakan, SC 51 telah berhasil digunakan untuk meyelamatkan lukisan mural di Muserum Sejarah Jakarta (MSJ).
Sedangkan untuk penyelamatan benda cagar budaya yang terbuat dari bahan kayu, kain, kertas, dan kulit dari kerusakan akibat lembap, PT Uzin mengeluarkan produk SC 03.
“UZIN SC 03 adalah pelapis anti lembab (Hydrophobic Coating) untuk material berbahan kayu, kain, kertas dan kulit. Mampu menahan percikan air dan kelembaban ruangan sehingga menjaganya tetap kering,” katanya.
Material Pelindung Kebakaran
Khusus untuk benda cagar budaya berbahan kayu, Uzin memroduksi SC 36 yang dirancang untuk memberika perlndungan optimal terhadap risiko kebakaran. Uzin SC 36 merupakan pelapis kayu anti api (fire retardant coating/paint).
Ada pula UZIN SC 35 fire fighting paint yang mampu menghambat perambatan dan pembesaran api. Cara kerjanya, ketika suhu mencapai 200-250 derajat Celcius, SC 35 yang berupa cat akan mengembang dengan sendirinya sebesar 50-100 kali lipat.
Saat itulah cat akan mengeluarkan gas CO2 yang akan menghambat pergerakan oksigen sehingga api tidak akan membesar dan merambat. Produk ini bisa diaplikasikan pada kayu, besi, dan tembok.
Sementara untuk perbaikan benda cagar budaya berbahan batu, Uzin memroduksi LS 500, lem berbahan mineral untuk batuan alam. “Penggunaan UZIN LS 500 sudah dilakukan dengan baik saat pemugaran Candi Ijo,” kata Sugiarto.
PT Uzin Utz Indonesia selama ini dikenal sebagai produsen heritage mortar, heritage paint mortar dan cat bernapas (breathable paint).
Berbagai produknya sudah banyak digunakan dalam pemugaran bangunan cagar budaya. Antara lain Benteng Fort Willem I (Pendem) Ambarawa, Gereja Blenduk, Gedung AA Maramis di Jakarta, dan masih banyak lagi. (Hasanuddin)


