ESGSustainability

Sepanjang 2025, Bencana Memaksa 10,2 Juta Jiwa Mengungsi

Lebih 10 juta jiwa mengungsi akibat bencana yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia sepanjang tahun 2025. Lebih 1.500 orang meninggal dan ratusan ribu rumah mengalami kerusakan.

JAKARTA, Improvement – Bencana merupakan peristiwa yang tak pernah diharapkan siapapun. Sebab dampaknya luar biasa dahsyat.

Tak sekadar menghancurkan, tapi juga mematikan dan menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan bagi para korban. Kerugian ekonomi secara nasional pun sangat besar.

Simak  saja bagaimana kerugian yang disemburkan dari bencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat di penghujung November 2025.

Hingga Senin  (22/12/2025), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban jiwa mencapai 1.090 jiwa, 186 hilang, dan lebih 7.000  terluka.

Banjir bandang dan tanah longsor di tiga provinsi tersebut memaksa lebih dari 900 ribu jiwa mengungsi ke tempat-tempat aman. Bencana dahsyat itu juga merusak lebih dari 147 ribu rumah warga, 1.600 fasilitas umum, 967 fasilitas pendidikan, 434 rumah ibadah, 290 gedung/kantor, 219 fasilitas kesehatan, dan 145 jembatan, .

10,2 Juta Jiwa Mengungsi

Lantas, bagaimana peta bencana di Indonesia sepanjang 2025?

Data BNPB menyebutkan, per periode 1 Januari – 22 Desember 2025 telah terjadi 3.144 bencana. Angka ini lebih rendah dibanding 2024 yang terdata di 3.472 bencana.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, bencana yang terjadi sepanjang 2025 masih didominasi oleh bencana hidrometeorologi yaitu banjir, cuaca ekstrem, dan tanah longsor. Bencana hidrometeorologi tercatat di angka 2.519 atau 80,12 persen dari total kejadian bencana.

Untuk banjir, tercatat di angka 1.598 bencana, cuaca ekstrem 683, dan tanah longsor 228. Bencana terbesar kedua adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). BNPB mencatat, sepanjang 2025 terjadi 546 bencana karhutla.

Selanjutnya bencana kekeringan (36), gempa bumi (23), gelombang pasang dan abrasi (21),  erupsi gunung api (7), dan tsunami (1).

Dampak dari 3.144 bencana tersebut telah mengakibatkan korban meninggal dunia sebanyak 1.530  jiwa, 258 hilang, dan 7.751 terluka. Bencana hidrometeorologi Pulau Sumatera di penghujung November 2025 menjadi bencana paling mematikan sepanjang 2025. Dari 1.530 korban meninggal dunia akibat bencana, 1.090 jiwa (data per tanggal 22 Desember 2025) di antaranya atau 71,24 persen berasal dari bencana hidrometeorologi Pulau Sumatera.

Jumlah korban akibat bencana di tahun 2025, lebih tinggi dibanding 2024 yang terdata di angka 540 meninggal dunia.

Bencana di 2025 telah memicu 10.289.445 jiwa menderita dan mengungsi ke tempat-tempat yang lebih aman. Sementara bencana 2024, memicu 8,1 juta jiwa mengungsi.

Dari sisi kerusakan, bencana 2025 telah mengakibatkan 184.495 rumah rusak per 22 Desember 2025. Terdiri atas rusak ringan (97.639), rusak sedang (37.538), dan rusak berat sebanyak 40.318 rumah.

Sedangkan jumlah fasilitas yang rusak mencapai 2.272 unit. Meliputi fasilitas pendidikan (1.334), rumah ibadah (669), dan fasilitas kesehatan (269). Belum lagi  jembatan putus sebanyak 145 unit akibat bencana hidrometeorologi Pulau Sumatera.

Indonesia tercatat sebagai negara kedua di dunia yang memiliki risiko bencana paling tinggi. Setiap tahun ribuan bencana terjadi di negeri ini.

Setiap tahun ribuan nyawa melayang akibat bencana, dan setiap tahun pula puluhan bahkan triliun rupiah digelontorkan untuk bencana di Bumi Pertiwi. Mampukah Indonesia meminimalisir dampak bencana? (Hasanuddin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button