NewsSustainability

Rangkaian Aksi Demo Sepekan Tewaskan 10 Orang

Para korban merupakan dua pengemudi ojol, tiga ASN, dua mahasiswa, seorang pelajar SMK, warga di Papua, hingga seorang penarik becak.

JAKARTA, Improvement – Aksi unjuk rasa yang terjadi dalam sepekan terakhir di berbagai wilayah di Indonesia, menewaskan setidaknya 10 orang.

Sembilan di antaranya meninggal terkait aksi unjuk rasa anarkis sebagai buntut tewasnya seorang pengemudi ojek online (Ojol). Sedangkan seorang lagi meregang nyawa dalam aksi unjuk rasa terkait pemindahan empat tahanan di Manokwari, Papua Barat.

Berdasarkan catatan Improvement, ke-10 korban meninggal dunia tersebut berasal dari berbagai profesi. Mulai dari mahasiswa, pengemudi ojol, Aparatur Sipil Negara (ASN), pelajar, hingga penarik becak.

Sejauh ini, korban meninggal terbanyak berasal dari kota Makassar yaitu sebanyak empat orang. Tiga di antaranya merupakan ASN. Mereka tewas saat para pengunjuk rasa membakar Gedung DPRD setempat pada Jumat (29/8/2025).

Ketiga ASN yang meregang nyawa tersebut teridentifikasi bernama  Sari Nawati (25), Saiful Akbar (43), dan M Akbar Basri (26).

Sedangkan seorang lagi, Rusmadiansyah (26), diketahui berprofesi sebagai pengemudi ojol. Ia tewas akibat dikeroyok para pengunjuk rasa yang menyangkanya sebagai aparat intelijen.

Sebelumnya, di Jakarta, Affan Kurniawan (21) meninggal dunia dalam aksi unjuk rasa pada Kamis (28/8/2025). Pengemudi ojol ini tewas setelah dilindas kendaraan taktis (Rantis) Polda Metro Jaya.

Kematian Affan menyulut emosi publik dan memantik gelombang aksi unjuk rasa di berbagai wilayah di Indonesia yang berujung anarkis.

Di Solo, aksi unjuk rasa yang berlangsung ricuh, mengakibatkan tewasnya Sumari (60). Penarik becak ini diduga mengembuskan napas terakhir karena sesak napas setelah menghirup gas air mata yang ditembakkan polisi untuk membubarkan massa, Jumat (29/8/2025) malam.

Pihak keluarga mengaku, Sumari memiliki riwayat jantung dan asma. Saat ditemukan, ia terduduk lemas di dekat Gedung Parkir Ketandan, Solo.

Mahasiswa dan Pelajar

Dari kalangan mahasiwa, tercatat dua orang yang meninggal. Yaitu Iko Juliant Junior, mahasiswa Fakultas Hukum Universias Negeri Semarang (Unnes). Ia diantar polisi ke RS Kariadi pada Minggu (31/8/2025) pukul 11.00 WIB. Pukul 15.30, Iko dinyatakan meninggal dunia.

Diduga kuat, ia merupakan korban kekerasan aparat kepolisian. Iko meninggal dengan kerusakan di bagian organ dalam. Ada luka lebam di maa dan bibir sobek.

Mahasiswa lainnya yang meninggal dunia adalah Rheza Sendy Pratama, mahasiswa semester V Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Yogyakarta. Ia tewas dalam kericuhan di kawasan Ring Road Utara, depan Markas Polda DIY, Minggu (31/8/2025) pagi.

Ayahnya, Yoyon Surono, yang memandikan jenazah anaknya, terkejut melihat tubuh Rheza penuh luka. “Leher belakang seperti patah, pelipis bocor, banyak bekas jejak sepatu PDL di dada dan perut, dan memar sabetan di badannya,” kata Yoyon sebagaimana dilansir dari tempo.co.

Rheza semula berpamitan hanya untuk minum kopi bersama teman. Belakangan ia diduga ikut demo. Ia dibawa ke RSUP dr. Sardjito oleh unit kesehatan kepolisian dan dinyatakan meninggal sekitar pukul 07.00 WIB.

Aksi demo juga merenggut seorang pelajar. Andika Lutfi Falah (16), siswa kelas 11 SMKN 14 Kabupaten Tangerang, akhirnya mengembuskan napas terakhir setelah di RS Mintoharjo, Jakarta, Senin (1/9/2025).

Keluarga korban menunjukan foto almarhum Andika Lutfi Falah (16), pelajar asal Puri Bidara Permai, RT/RW 02/06, Desa Pematang, Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten, yang meninggal dunia diduga terlibat dalam aksi kerusuhan unjukrasa di Kawasan DPR/MPR RI 28 Agustus 2025 lalu. ANTARA/Azmi Samsul Maarif)

Siswa asal Puri Bidara Permai, RT/RW 02/06, Desa Pematang, Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten ini meninggal setelah menajalani perawatan intensif sejak Jumat (29/8/2025).

Almarhum dilarikan ke rumah sakit setelah terluka dalam aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR/MPR pada Kamis (28/8/2025).

Berdasarkan hasil keterangan tim medis kepada keluarga, korban mengalami luka berat pada bagian kepala belakang akibat benturan benda tumpul. Hal ini mengakibatkan korban tak sadarkan diri sejak dibawa ke rumah sakit pada Jumat pagi.

Sementara dari Manokwari, Papua Barat, Septinus Sesa meregang nyawa setelah aksi unjuk rasa pada Kamis (28/8/2025) berlangsung ricuh.

Aksi unjuk rasa yang berlangsung di kawasan Wirsi dan Jl Yos Sudarso itu terkait pemindahan empat tahanan politik kasus makar oleh Polda Papua Barat. Keempatnya akan disidangkan di Makassar, Sulawesi Selatan.

Komnas HAM

Kasus kematian para korban selama aksi unjuk rasa ini membetot perhatian Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Ketua Komnas HAM Anis Hidayah menyebut beberapa di antara korban itu diduga meninggal karena mengalami kekerasan  oleh aparat kepolisian.

Berikut korban meninggal dunia berdasarkan data Komnas HAM.
1. Affan Kurniawan,  Jakarta
2. Sari Nawati, Makassar
3. Saiful Akbar, Makassar
4. M. Akbar Basri, Makassar
5. Rusma Diansaah, Makassar
6. Sumari, Solo
7. Rheza Sendy Pratama, Yogyakarta
8. Andika Lutfi Falah, Jakarta
9. Iko Juliarto Junior, Semarang
10. Septinus Sesa, Manokwari

Presiden Prabowo Prihatin

Presiden Prabowo Subianto merasa sangat prihatin atas jatuhnya korban dalam aksi demo yang terjadi beberapa hari belakangan. Baik dari kalangan masyarakat sipil maupun aparat keamanan.

Usai menjenguk belasan polisi yang terluka dalam tugas pengamanan, Prabowo mengungkapkan ada petugas luka parah karena ginjalnya diinjak-injak sampai rusak.

Berdasarkan data dari Polri, secara keseluruhan ada 43 polisi yang cedera saat bertugas melaksanakan pengamanan aksi demo di Jakarta. Sebagian besar di antaranya sudah pulang. Namun 17 petugas masih harus menjalani perawatan.

Mereka mengalami luka cukup berat. Bahkan sampai harus dioperasi. Sebanyak 13 petugas sudah ditemui oleh Prabowo satu per satu di Rumah Sakit Polri Kramat Jati.

“Ini saya mau nengok yang paling parah, ginjalnya diinjak-injak sampai rusak. Jadi, beliau sekarang harus dicuci darah. Saya tidak tahu, tapi kalau perlu kita cari transplantasi ya, kita cari transplantasi, kalau tidak bisa diperbaiki ginjalnya,” ucap Prabowo.

Dilindungi UU

Sebagai presiden, Prabowo menyatakan bahwa aksi demo dilindungi oleh undang-undang (UU). Pendemo yang ingin menyampaikan aspirasi dan suara berhak berunjuk rasa.

Negara harus memfasilitasi dan aparat keamanan wajib melindungi. Namun, dia menyebut, aksi harus sesuai dengan aturan dan ketentuan yang berlaku. Salah satunya adalah izin dan berhenti paling telat pukul 18.00 WIB.

“Di banyak tempat saya dapat laporan datang truk-truk, di situ ada petasan-petasan yang berat yang besar. Dan itu anggota banyak yang kena petasan, ada yang terbakar leher, ada yang terbakar paha,” ucap Prabowo.

Prabowo tidak menampik, aparat keamanan juga bisa salah dan khilaf saat menjalankan tugas. Namun, dia juga tidak ingin bila ada perusuh yang tidak berniat menyampaikan aspirasi. Apalagi sampai jatuh korban meninggal dunia seperti yang terjadi di Makassar. Prabowo menyebut ada beberapa ASN kehilangan nyawa, padahal mereka tidak berdosa.

“Kalau ada korban yang benar-benar salah adalah yang buat kerusuhan sampai rakyat tidak berdosa (menjadi) korban. Polisi sudah tegas menindak anggotanya yang mungkin keliru, ini sedang diselidiki, kalau ada kesalahan akan ditindak. Tapi, jangan lupa puluhan petugas yang berkorban,” kata Presiden. (Hasanuddin)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button