
Mudik Lebaran 2026 Tewaskan 228 Orang
Kecelakaan fatal masih didominasi sepeda motor. Penyebab utama kecelakaan adalah kelelahan (fatigue) dan kondisi kendaraan yang kurang prima.
CIKARANG, Improvement – Operasi Ketupat 2026 yang berlangsung selama 13 hari (13-25 Maret), telah resmi ditutup. Selama periode pengamanan arus mudik dan balik Lebaran 2026 itu, terjadi 2.119 kecelakaan lalu lintas di berbagai wilayah Indonesia.
Dari jumlah tersebut, total korban kecelakaan tercatat sebanyak 3.597 orang, dengan 228 orang di antaranya meninggal dunia. Angka kecelakaan fatalitas pada musim mudik Lebaran 2026, turun 28-30,4% dibanding tahun 2025 yang mencapai 318 pemudik meninggal dunia.
Data ini disampaikan Korlantas Polri dan PT Jasa Raharja saat menggelar konferensi pers di Command Center KM 29, Cikarang Utara, Bekasi, Jumat (27/3/2026).
“Fatalitas korban meninggal dunia turun 30,4 persen, dan jumlah peristiwa kecelakaan juga menurun sebesar 5,3 persen,” kata Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Irjen Pol Agus Suryonugroho.
Dikatakan, penurunan ini menunjukkan tren positif dalam upaya meningkatkan keselamatan masyarakat selama arus mudik dan arus balik Lebaran 2026.
Selama Operasi Ketupat, Polri menerapkan berbagai skema rekayasa lalu lintas, mulai dari sistem satu arah (one way) nasional maupun lokal hingga contraflow di sejumlah ruas Tol Trans Jawa.
Pengamanan juga difokuskan pada lima klaster utama, yakni jalan arteri, jalan tol, pelabuhan penyeberangan, tempat ibadah, serta lokasi wisata.
Kelelahan
Pada kesempatan sama, Direktur Utama Jasa Raharja, Muhammad Awaluddin, menjelaskan bahwa penurunan angka kecelakaan merupakan hasil dari kombinasi beberapa faktor.
“Pertama, adanya penguatan manajemen rekayasa lalu lintas yang dilakukan Korlantas Polri, termasuk pengaturan arus mudik yang lebih terdistribusi. Kebijakan work from anywhere yang diumumkan pemerintah jauh hari sebelumnya juga berdampak signifikan dalam pemerataan arus mudik,” kata Awaluddin.
“Berdasarkan data yang kami himpun bersama Korlantas, kami dari Jasa Raharja melaporkan bahwa seperti yang tadi juga disampaikan oleh Bapak Kakorlantas, hingga kemarin kami mendata jumlah kecelakaan secara nasional peristiwanya turun 5,3%, dan jumlah korban meninggal dunia atau fatalitas seperti yang juga tadi disampaikan turun 30,4%,” Awaluddin menambahkan.
Meski tren menunjukkan penurunan, kecelakaan masih didominasi oleh kendaraan bermotor roda dua. Faktor kelelahan pengemudi (fatigue driving), durasi perjalanan panjang hingga 4–5 jam, serta kondisi kendaraan yang kurang prima menjadi penyebab utama kecelakaan.
“Dominasi peristiwa kecelakaan masih didominasi oleh kendaraan bermotor roda dua. Dan hal-hal yang berkaitan dengan peristiwa kecelakaan di area non-tol ini juga masih menjadi satu hal yang perlu pengaturan,” lanjutnya.
Hingga saat ini, Jasa Raharja telah menyalurkan santunan kepada keluarga korban kecelakaan dengan total nilai mencapai lebih dari Rp11 miliar.
“Terhadap seluruh korban yang meninggal dunia dalam peristiwa kecelakaan yang tadi disampaikan, kami sudah menyalurkan santunan kepada keluarga korban maupun ahli waris sampai dengan kemarin nilainya Rp11,9 miliar,” tambah Awaluddin. (Hasanuddin)



