NewsSustainability

Menyelamatkan Artefak Keraton di Laboratorium Konservasi Keraton Yogyakarta

Sejak pertama kali didirikan pada 1755, Keraton Yogyakarta sudah memiliki perangkat yang menangani seacara khusus perawatan benda keraton. Kini dilengkapi dengan Laboratorium Konservasi yang lebih modern dan berbasis ilmiah.

YOGYAKARTA, Improvement – Keraton Yogyakarta merupakan living monument, yang sejak didirikan pada 1755 hingga saat ini masih berfungsi sebagai pusat pemerintahan.

Juga masih berfungsi sebagai tempat kediaman pemimpin Yogyakarta dan keluarganya.  Selain itu, juga masih tetap berfungsi sebagai pusat kebudayaan dan tradisi Jawa.

Sebagai pusat kebudayaan dan tradisi Jawa, Keraton Yogyakarta memiliki ratusan ribu benda cagar budaya. Mulai dari kereta (alat transportasi), lukisan, manuskrip, tekstil (batik), peralatan makan, perhiasan, porselen, kristal, senjata, dan masih banyak lagi.

Aneka benda cagar budaya tersebut, menjadi koleksi di empat museum Keraton Yogyakarta dan menjadi destinasi  wisata yang banyak dikunjungi wisatawan.

Di Museum Kereta misalnya, terdapat tiga koleksi kereta yang amat bersejarah dan bernilai tinggi bagi ilmu pengetahuan.  Yaitu Kereta Kanjeng Kyai Jimad yaitu kereta yang digunakan pada upacara penobatan Sri Sultan Hamengku Buwono I dan II di tahun 1750-an.

Lalu, Kereta Kyai Manik Retno, yaitu kereta terbuka buatan Belanda yang ditarik seekor kuda. Kereta ini  acap menjadi kendaraan Sri Sultan Hamengkubuwono IV (1814-1822) ketika bepergian.

Selanjutnya adalah Kereta Kanjeng Kyai Garudayaka, yang diproduksi di Belanda pada 1867-1869. Kereta ini sudah digunakan sejak masa Sri Sultan Hamengkubuwono VI (1855-1877) hingga sekarang ini.

Laboratorium Konservasi

Merawat dan memelihara benda cagar budaya yang jumlahnya ratusan ribu dengan bentuk beraneka rupa, tentu bukan pekerjaan mudah dan murah. Apalagi untuk Keraton Yogyakarta, yang sejak didirikan 270 tahun lalu hingga sekarang ini masih aktif.

Menurut Kepala Urusan Pemeliharaan dan Konservasi Keraton Yogyakarta, Agung Wijaya, pemeliharaan dan perawatan benda-benda sudah dilakukan sejak Keraton Yogyakarta itu berdiri.  Ia mengibaratkan keraton adalah sebuah rumah besar, yang harus diorganisir dengan baik.

Agung Wijaya, Kepala Urusan Pemeliharaan dan Konservasi/Kepala Laboratorium Konservasi Keraton Yogyakarta (Foto: Improvement/Hasanuddin)

“Pemeliharaan dan perawatan dilakukan oleh para abdi dalam. Ada semacam kawedanan atau kantor yang tugasnya adalah merawat barang-barang milik keraton. Perawatan yang dilakukan selama ini tentunya sesuai standar dan prosedur tradisional,” kata Agung.

Selama keraton berdiri hingga abad 20, standar dan prosedur pemeliharaan dan perawatan itu masih bisa ‘diterima’. Tetapi sekarang ini menjadi sebuah kesulitan tersendiri, terutama dalam hal pertanggungjawaban ilmiah.

Oleh karena itu, kata Agung, pihak keraton melalui Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara melakukan terobosan dengan membangun laboratorium konservasi. Lengkapnya bernama Laboratorium Konservasi dan Pemeliharaan Nitya Budaya.

Sentuhan Ilmiah dalam Tradisional

“Laboratorium konservasi yang didirikan pada 2022 ini tidak menghilangkan prosedur perawatan tradisional yang sudah berlangsung lebih 200 tahun. Tetapi kehadirannya justru untuk memberi sentuhan ilmiah, perspektif ilmiah,” katanya.

Arkeolog jebolan Universitas Gajah Mada (UGM) ini melanjutkan, sejak laboratorium konservasi berdiri, lahirlah SOP, metode ilmiah dalam aspek perawatan benda cagar budaya.

“Ujungnya, keraton memberikan pertanggungjawaban secara ilmiah kepada dunia ilmu pengetahuan dan masyarakat luas. Bagaimana sih merawat barang-barang kuno milik keraton dan bagaimana keraton serius dalam merawat barang-barang kuno ini. Kuncinya di situ,” Agung menegaskan.

Salah satu artefak yang sedang ditangani Lab Konservasi Keraton adalah pigura cermin peninggalan Sultan HB VI. “Kayunya ternyata berasal dari Eropa, bukan lokal. Benda-benda cagar budaya yang saat ini dirawat di Lab Konservasi sebagian besar  merupakan peninggalan Sultan HB VI dan VII,” katanya.

Selain itu, saat ini juga sedang dilakukan restorasi salah satu kereta kencana. Agung mengakui, restorasi kencana ini memiliki tingkat kerumitan tersendiri. Pasalnya, restorasi yang dilakukan bukan untuk dipajang melainkan untuk difungsikan kembali.

Menariknya, Agung menambahkan, kehadiran laboratorium konservasi di Keraton Yogyakarta bisa secara langsung dikonsumsi masyarakat atau pengunjung.

“Pengunjung yang datang dapat melihat proses perawatan koleksi milik Museum Karaton Yogyakarta. Tujuannya supaya pengunjung bisa mendapatkan ilmu tentang perawatan koleksi museum yang baik dan bagaimana cara memperlakukan koleksi,” pungkasnya. (Hasanuddin)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button