FIRE SAFETYKampusQHSSESustainability

Gelar Workshop K3L, Pengmas UI Temukan Potensi Bahaya di MNI

Sistem proteksi kebakaran, baik aktif maupun pasif, di Museum Nasional Indonesia (MNI) masih jauh panggang dari api. Kebakaran berpotensi kembali terjadi.

JAKARTA, Improvement – Keheningan malam pada Sabtu (16/9/2023) mendadak pecah. Langit pekat Jakarta Pusat tetiba menjadi merah. Suara sirine meraung-raung di kegelapan malam, memecah jalanan kota Jakarta.

Asap hitam membubung tinggi, menghiasi angkasa Jakarta. Malam itu, Museum Nasional Indonesia (MNI) yang berlokasi di Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, mengalami kebakaran.

MNI  adalah museum terbesar dan terlengkap di Indonesia. Dikenal sebagai Museum Gajah. Sebutan ini mengacu pada patung gajah yang terletak di depan museum. Patung Gajah berbahan perunggu ini merupakan hadiah dari Raja Chulangkron dari Thailand pada 1871.

Bangunan museum pertama kali didirikan pada 1862 sebagai tempat berhimpunnya para akademisi Hindia Belanda di bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan, Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenshappen. Perhimpunan ini didirikan pada 24 April 1778 dengan tujuan memajukan ilmu pengetahuan melalui pengembangan museum di kota Batavia.

Kobaran api tampak menyala-nyala. Melumat sebagian gedung A (gedung lama) bagian belakang. Meruntuhkan sebagian atap dan dinding.  Bangunan terdampak kebakaran berada di sisi barat gedung A. Meliputi Galeri Prasejarah, Galeri Perunggu, Galeri Peradaban Islam, Galeri Terakota, Galeri Keramik, Ruang Budaya Indonesia, dan Ruang Alam Indonesia.

Luas area terbakar 1.792,12 meter persegi dari total luas area gedung A sebesar 7.391,88 meter persegi. Sebanyak 902 total koleksi terdampak kebakaran. Sebanyak 231 di antaranya dari galeri keramik, 49 dari galeri peradaban, 92 dari galeri perunggu, 225 dari galeri prasejarah, 180 dari galeri terakota, dan 125 dari ruang kebudayaan Indonesia.

Klasifikasi tingkat kerusakan fisik koleksi dibagi menjadi tiga, yakni tinggi sebesar 27,4 persen, sedang 28,2 persen, dan rendah 44,4 persen. Sedangkan jenis koleksi yang terbakar, 25,7 persen merupakan koleksi keramik, 25,3 persen koleksi prasejarah. Lalu 24,3 persen koleksi arkeologi, 24,5 persen koleksi etnografi, dan 0,2 persen koleksi numismatik, heraldik.

Kerugian yang dialami, tentu saja tak bisa diukur dan ditakar secara rupiah. Sebab nilai penting yang terkandung di dalam setiap koleksi cagar budaya tersebut, tak bisa ditakar dengan uang.

Salah satu koleksi yang rusak parah akibat kebakaran adalah nekara perunggu. Koleksi yang berasal dari kebudayaan Dongson (1000 SM – abad 1 SMM) ini mengalami kerusakan klasifikasi tinggi. Kebakaran tak lagi bisa mengembalikan Nekara yang dibuat lebih dari 2.000 tahun silam tersebut.

Potensi Bahaya

Kebakaran hebat tersebut nyatanya tak membuat pihak pemerintah terutama pengelola MNI, belajar dari kesalahan. Sistem proteksi kebakaran, baik aktif maupun pasif, tak dilakukan optimal.

Sistem proteksi aktif kebakaran semisal sprinkler dan detektor asap (smoke detector),  dalam keadaan tertutup. Terdapat penutup berwarna oranye di kedua alat tersebut. Belum lagi kehadiran Alat Pemadam Api Ringan (APAR) dan hydrant yang juga sama-sama dalam kondisi tak terawat.

Smoke detector di MNI dalam kondisi tertutup. (Foto: Improvement/Hasanuddin)

Beberapa di antaranya dipasang tidak sesuai ketentuan seperti, dipasang di atas ketinggian lebih dari 120 cm, sesuai regulasi. Beberapa kotak (boks) APAR bahkan terlihat kosong alias tak dilengkapi dengan tabung APAR di dalamnya.

Begitu pula dengan hydrant. Lampu merah yang mengindikasikan hydrant bergungsi, banyak yang tidak menyala. Bahkan ada sebuah botol plastik berisi cairan mudah terbakar (flameble) berada di sebuah boks hydrant. Ada juga hydrant yang diletakkan secara tersembunyi atau tidak berada di lokasi yang mudah di lihat.

Rambu-rambu keselamatan (safety sign) juga sangat minim. Tak kalah mengerikannya adalah pintu darurat, yang di depannya justru diletakkan sebuah patung batu berukuran besar.

Temuan ini terungkap ketika tim Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia (Pengmas UI) meninjau ruang pamer di lantai 1 usai menggelar acara Workshop Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan (K3L) di Museum Nasional Indonesia (MNI) pada Senin (3/11/2025) silam.

“Museum Nasional Indonesia tidak belajar dari kebakaran sebelumnya. Ini berpotensi kembali mengalami kebakaran yang kedua,” kata Prof Irmawati Marwoto, Ketua tim dari Pengmas UI.

Prof Irmawati Marwoto. (Foto: Dok Pengmas UI)

Prof Irma tampak geram dengan kondisi MNI. Siang itu, usai acara, Prof Irma dan tim sengaja berkeliling ke ruang pamer untuk menyaksikan secara langsung bagaimana penerapan aspek K3L (HSE) di MNI. Siang itu, ia ditemani Fadryanto, praktisi HSE dari Masyarakat Profesi Keselamatan Kebakaran Indonesia (MPK2I) dan Improvement.

Workshop K3L

Kebakaran museum terlengkap di Indonesia itu, tentu mengundang keprihatinan mendalam berbagai pihak.  Sebab di sana tersimpan jejak peradaban para pendahulu Indonesia, sejak masa Prasejarah hingga kini, dalam rentang waktu amat panjang.

Kebakaran tak semata melumat bangunan gedung museum. Lebih dari itu, memusnahkan jejak budaya berupa aneka tinggalan arkeologis yang tersimpan di museum.

Berkaca dari kasus kebakaran tersebut, Pengmas UI menggelar workshop K3L Dasar untuk Staf Museum Nasional Indonesia. Mengusung tema “Museum Aman” workshop ditujukan bagi pengelola MNI.

Prof Irma Marwoto mengatakan, kegiatan workshop tersebut lebih ditujukan bagi pengelola MNI agar memiliki pengetahuan tentang K3L Dasar.

“Sekaligus mengetahui upaya tanggap darurat ketika menghadapi bencana semisal kebakaran sebagaimana pernah terjadi di MNI,” kata Prof Irma.

Kegiatan yang dihadiri puluhan pengelola MNI itu menghadirkan Fadryanto, praktisi HSE dari MPK2I.  Dalam pemaparannya, Fadryanto menekankan pentingnya kesiapsiagaan dan respons kedaruratan bencana di institusi warisan budaya, termasuk museum.

“Ada tiga jenis bahaya yang membutuhkan tanggap darurat. Yaitu bencana alam, bencana non alam, dan bencana sosial. Kebakaran termasuk bencana non alam,” kata Fadryanto.

Terkait kebakaran, pria yang akrab disapa Abu ini menjelaskan terbentuknya api melalui teori segitiga api. Yaitu bahan bakar, sumber panas, dan oksigen. “Api tidak akan tercipta apabila salah satu dari unsur tersebut tidak ada,” katanya.

Sebagai praktisi HSE (K3L), Abu menjelaskan tentang pentingnya pembentukan tim tanggap darurat (Emergency Respons Team/ERT). Tim ini terdiri dari berbagai unsur dan bertugas mengelola kesiapsiagaan dan respons kedaruratan bencana di MNI.

Kegiatan workshop K3L Dasar untuk pengelola MNI ini juga dihadiri sejumlah mahasiswa dari Arkeologi UI, baik S1 maupun S2. Juga dihadiri oleh Dr Gilman Assilmi, Ka Prodi S1 Arkeologi FIB UI, dan Asep Herdiansyah, Kanit K3L FIB UI. (Hasanuddin)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button