InfrastructureNewsSustainability

43 Cagar Budaya Terdampak Bencana Sumatera

Salah satunya adalah cagar budaya Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto di Sumatera Barat yang sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO.

JAKARTA, Improvement – Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi di Pulau Sumatera, berdampak pada kerusakan cagar budaya.

Berdasarkan data Kementerian Kebudayaan, terdapat 43 cagar budaya yang terdampak banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Berdasarkan pemeringkatan, 43 cagar budaya tersebut terdata sebagai cagar budaya tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota. Kerusakan yang terjadi mulai kategori ringa, sedang, hingga parah.

“Total ada sekitar 43 (cagar budaya) yang terdampak,” kata Menteri Kebudayaan Fadli Zon  dalam konferensi pers di Jakarta, kemarin, sebagaimana dilansir dari laman antara.

Cagar budaya paling bayak terdampak, terdapat di Aceh. Di Bumi Serambi Mekah ini, terdapat 34 cagar budaya yang terdampak. Lalu, tujuh cagar budaya di wilayah Sumut dan dua cagar budaya di wilayah Sumbar.

Ia menyampaikan bahwa sejumlah cagar budaya di wilayah Aceh mengalami kerusakan sedang karena tergenang banjir. Antara  lain  Makam Putroe Balee, Makam Sultan Ma’ruf Shah, Masjid Poteu Meureuhom, Makam Putroe Sani, Makam Daeng Mansur, Masjid Madinah, dan Masjid Teungku Pucok Krueng.

Menurut dia, banjir juga menggenangi makam dan masjid tua serta rumah adat di wilayah Aceh Tengah.

“Ini rumah adat Toweren di Aceh Tengah ini terendam banjir, ini cukup parah. Situs Loyang Ujung Karang ini juga terkena longsor di Aceh Tengah, cukup berat,” katanya.

Cagar budaya di wilayah Sumut yang terdampak bencana antara lain kediaman Tjong A Fie, Masjid Raya Al Osmani, Masjid Raya Al Mashun. Lalu, Masjid Azizi, Masjid Sri Alam Dunia, Bagas Godang Sipirok, dan Bagas Godang Muaratais.

Ia menambahkan, Situs Bongal dan Jago-jago di Tapanuli Tengah sempat tergenang, tetapi genangannya sekarang sudah surut.

Di wilayah Sumbar, ia melanjutkan, rumah pahlawan nasional Rasuna Said terdampak banjir. Satu lagi,  bagian Jalur Kereta Api Sawahlunto-Teluk Bayur di Kabupaten Pesisir Selatan terdampak banjir dan longsor.

Dikatakan Fadli Zon,  bencana  di wilayah Aceh, Sumut, dan Sumbar juga berdampak pada 72 orang juru pelihara situs dan cagar budaya.

“Mereka ini yang di garda paling depan untuk memelihara situs dari hari ke hari, itu yang terdampak itu 72 orang. Mereka dalam keadaan sehat, tapi rumahnya kebanjiran, rusak, dan lain-lain,” katanya.

Dikatakan,  Kementerian Kebudayaan  telah menggalang dana Rp1,5 miliar untuk membantu penanganan dampak banjir dan longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar.  Dana tersebut akan disalurkan melalui Balai Pelestarian Kebudayaan di wilayah Aceh, Sumut, dan Sumbar.

Warisan Budaya Dunia

Di Sumbar, salah satu cagar budaya yang terdampak adalah Situs Cagar Budaya Ombilin yang berlokasi di Sawahlunto. Situs ini merupakan area bekas pertambangan batu bara dan sudah ditetapkan sebagai Situs Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO.

Dalam kunjungannya ke Situs Ombilin,  Fadli Zon mengatakan situs tersebut menjadi salah satu perhatian utama Kemenbud.

Cagar budaya ini mengalami kerusakan parah pada bagian jembatan dan lintasan rel kereta akibat pergeseran fondasi setelah diterjang banjir bandang.

Fadli menjelaskan jembatan yang juga merupakan bagian dari situs warisan budaya Ombilin Coal Mining Heritage telah ditetapkan oleh UNESCO pada 2019. Kemenbud berharap situs ini bisa diperbaiki dengan penguatan yang sudah cukup teruji.

“Secepat mungkin kita akan mendapatkan masukan kalau sudah ada gambarnya. Sebetulnya bisa kita putuskan ya (jembatan) ini harus diperkuat, kemudian mungkin bisa kita tinggikan sesuai dengan standar,” ungkapnya.

Jembatan Kereta Api Lembah Anai adalah bagian ikonik dari Situs Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto. Meskipun mengalami kerusakan akibat bencana alam seperti banjir bandang, sejumlah komunitas menolak rencana pembongkaran jembatan kereta api yang terletak di kawasan Lembah Anai, Sumatra Barat.

Menanggapi hal ini, Mentri Fadli Zon mengatakan bahwa Kemenbud segera melakukan kajian kelayakan dengan menggandeng para ahli. Hal in untuk menentukan langkah penanganan yang tepat, dengan tetap menjaga nilai penting warisan budaya dunia tersebut. (Hasanuddin)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button