ESGNewsSustainability

Sepanjang 2025, Indonesia diguncang 3.012 Bencana

Hingga 6 Desember 2025, BNPB mencatat 3.012 bencana yang terjadi sepanjang 2025. Bencana hidrometeorologi (banjir, cuaca ekstrem, dan tanah longsor) menjadi bencana paling mendominasi, disusul Karhutla.

JAKARTA, Improvement – Bencana merupakan peristiwa yang tak pernah diharapkan siapapun. Sebab dampaknya luar biasa dahsyat.

Tak sekadar menghancurkan, tapi juga mematikan dan menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar.

Lihat saja bagaimana kerugian yang disemburkan dari bencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat di penghujung November 2025.

Hingga Sabtu (6/12/2025), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban jiwa mencapai 883 jiwa, 540 hilang, dan 4.200 terluka. Jumlah korban meninggal dunia diperkirakan mencapai lebih dari 1.300 orang.

Banjir dan tanah longsor yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, itu juga mengakibatkan  121.500 rumah rusak. Menghancurkan 1.100 fasilitas umum, 509 fasilitas pendidikan, 338 rumah ibadah, 270 fasilitas kesehatan, 221 gedung/kantor, dan memutus 405 jembatan.

Rp68,67 Triliun

Kerugian ekonomi yang dialami, tentu sangat lah besar. Angkanya diperkirakan mencapai Rp68,67 triliun, sebagaimana disampaikan Direktur Eksekutif Center of Economics and Law Studies (Cilos) Bhima Yudhistira Adhinegara di Jakarta, Jumat (5/12/2025).

Angka ini bukan berdasarkan kerugian yang ditimbulkan secara langsung. Melainkan hasil perhitungan dari dampak bencana terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

“Secara nasional, terjadi dampak penurunan PDB mencapai Rp68,67 triliun atau setara dengan 0,29 persen,” kata Bhima.

Dilkatakan, bencana yang melumpuhkan akses transportasi suatu daerah akan berdampak secara nasional. “Terlebih Sumatera Utara merupakan salah satu simpul industri nasional di Sumatera,” katanya.

Berdasarkan perhitungan Celios, banjir bandang dan longsor itu membuat perekonomian Aceh turun Rp2,04 triliun, Sumut Rp2,07 triliun, Sumbar Rp2,01 triliun, Riau Rp2,06 triliun.

Lalu, Jambi Rp2,08 triliun, Sumsel Rp1,99 triliun, Bengkulu Rp2,08 triliun, Lampung 2,07 persen, Bangka Belitung Rp2,01 triliun, dan Kepri  Rp2,07 triliun.

Kemudian, DKI Jakarta Rp1,88 triliun, Jawa Barat Rp2,07 triliun, Jawa Tengah Rp2,06 triliun, DI Yogyakarta Rp2 triliun, Jawa Timur Rp2,7 triliun; Banten Rp2,08 triliun; Bali Rp1,95 triliun dan lainnya.

3.012 Bencana

Lantas, bagaimana peta bencana di Indonesia sepanjang 2025?

Data BNPB menyebutkan, per periode 1 Januari – 6 Desember 2025 telah terjadi 3.012 bencana. Angka ini lebih rendah dibanding 2024 yang terdata di 3.472 bencana.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, bencana yang terjadi sepanjang 2025 masih didominasi oleh bencana hidrometeorologi yaitu banjir, cuaca ekstrem, dan tanah longsor. Bencana hidrometeorologi tercatat di angka 2.380 atau 79 persen dari total kejadian bencana.

Untuk banjir, tercatat di angka 1.510 bencana, cuaca ekstrem 651, dan tanah longsor 219. Bencana terbesar kedua adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). BNPB mencatat, sepanjang 2025 terjadi 546 bencana karhutla.

Selanjutnya bencana kekeringan (23), gempa bumi (23), gelombang pasang dan abrasi (20),  erupsi gunung api (6), dan tsunami (1).

Dampak dari 3.012 bencana tersebut telah mengakibatkan korban meninggal dunia sebanyak 1.317 jiwa, 588 hilang, dan 4.978 terluka. Korban terbanyak berasal dari bencana hidrometeorologi yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Dari bencana di tiga provinsi itu, hingga Sabtu (6/12/2025) pukul 15.28 WIB, korban meninggal dunia terdata di angka 897 jiwa, 451 hilang, dan 4.200 terluka. Angkanya kemungkinan besar akan terus bertambah mengingat hingga ditulisnya berita ini, upaya pencarian para korban masih terus dilakukan.

Bencana hidrometeorologi Pulau Sumatera di penghujung November 2025 menjadi bencana paling mematikan sepanjang 2025. Dari 1.317 korban meninggal dunia akibat bencana, 897 jiwa di antaranya atau 68,1 persen berasal dari bencana hidrometeorologi Pulau Sumatera.

Jumlah korban akibat bencana di tahun 2025, lebih tinggi dibanding 2024 yang terdata di angka 540 meninggal dunia.

Bencana di 2025 telah memicu 9,3 juta jiwa menderita dan mengungsi ke tempat-tempat yang lebih aman. Sementara bencana 2024, memicu 8,1 juta jiwa mengungsi.

Dari sisi kerusakan, bencana 2025 telah mengakibatkan 157.946 rumah rusak. Terdiri atas rusak ringan (25.754), rusak sedang (8.565), dan rusak berat sebanyak 123.627 rumah.

Sedangkan jumlah fasilitas yang rusak mencapai 1.763 unit. Meliputi fasilitas pendidikan (874), rumah ibadah (569), dan fasilitas kesehatan (320). Belum lagi kerusakan fasilitas umum (fasum) yang mencapai 1.100 unit dan jembatan putus sebanyak 405 unit akibat bencana hidrometeorologi Pulau Sumatera.

Indonesia tercatat sebagai negara kedua di dunia yang memiliki risiko bencana paling tinggi. Setiap tahun ribuan bencana terjadi di negeri ini. Setiap tahun ribuan nyawa melayang akibat bencana, dan setiap tahun pula puluhan triliun rupiah digelontorkan untuk bencana di Bumi Pertiwi. (Hasanuddin)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button