NewsSustainability

Habis Cilacap, Terbitlah Longsor Banjarnegara

Dalam tempo lima hari, tanah longsor di Cilacap dan Banjarnegara, Jawa Tengah. Hingga Rabu (19/11/2025) setidaknya 20 orang meninggal dan 31 lainnya hilang.

BANJARNEGARA, Improvement – Duka masih tebal menyelimuti warga Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Tanah longsor yang terjadi di sana, mengakibatkan 18 orang meninggal dunia dan lima warga lainnya masih dinyatakan hilang.

Peristiwa yang terjadi Kamis (13/11/2025) malam itu juga mengakibatkan 16 rumah hancur, 25 rumah terancam, dan 1 hektar lahan pertanian terdampak.

Total ada 46 jiwa terdampak langsung dan 383 orang mengungsi di Balai Desa Cibeunying, MTS SS Cibeunying, Masjid Baeturrohman Wanasari, dan rumah saudara.

Hanya berselang lima hari, peristiwa serupa juga terjadi di Banjarnegara, sekitar 74 km dari Cilacap. Peristiwa longsor Banjarnegara yang terjadi Senin (17/11/2025) malam, lebih dahsyat.

Hingga Rabu (19/11/2025) pagi, terdata dua orang meninggal, 26 dinyatakan hilang, dan 923 jiwa mengungsi.

Longsor terjadi di Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Area bukit yang longsor mencapai sekitar 10 km dengan jarak luncuran material tanah sepanjang 1 km.

Material tanah longsoran menimbun setidaknya 48 rumah dan puluhan rumah lainnya terdampak longsoran.

Suara Gemuruh

Sumarti, salah seorang warga selamat, menuturkan bahwa saat longsor terjadi, ia sedang berada di rumahnya. Tanah longsor menimbulkan suara bergemuruh.

Ia keluar dan melihat ke bagian bukit yang tengah longsor. Tanah longsor semakin membesar dan semakin menimbulkan suara gemuruh.

Tanpa pikir panjang, ia lari menyelamatkan diri.  “Waktu kejadian itu terdengar suara gemuruh. Beberapa warga memastikan kondisi daerah atas. Tapi longsor itu membesar, saya pun lari menyelamatkan diri,” katanya, Senin (17/11/2025) malam, sebagaimana dilansir dari kompas.com, Selasa (18/11/2025).

Awalnya ia dan beberapa warga berlari menuju area makam dusun. Namun situasi terus memburuk, tanah bergerak, dan pepohonan tumbang. Mereka akhirnya memilih ke hutan sebagai tempat perlindungan sementara.

“Setelah sampai di hutan, kami dijemput oleh petugas. Lalu dibawa ke puskesmas dan kemudian di posko pengungsian,” katanya.

Sumarti merupakan satu dari 41 warga selamat yang melarikan diri ke hutan dan dievakuasi petugas dari Tim Basarnas.

Kepala Kantor SAR Semarang, Budiono, mengatakan hingga Rabu (19/11/2025), tanah longsor di Banjarnegara mengakibatkan dua orang meninggal, 10 terluka, dan 26 lainnya masih dalam pencarian.

Longsor Banjarnegara juga mengakibatkan 48 rumah tertimbun dan 923 jiwa mengungsi. Sebanyak 280 ternak warga juga dilaporkan mati.

Masih Labil

Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Banjarnegara, Raib Saekhudin, menjelaskan bahwa kondisi medan sangat berbahaya. Tanah terus bergerak dan retakan baru muncul di berbagai titik.

“Kondisi terkini, permukaan tanah masih labil dan terus bergeser. Ancaman longsor susulan sangat tinggi,” ujar Budiono.

“Tim kami masih berjaga. Begitu situasi stabil, proses evakuasi akan dilanjutkan.”

Petugas SAR dan BPBD tetap berada di area aman untuk memantau gerakan tanah dan menyiapkan jalur evakuasi tambahan jika kondisi kembali memungkinkan.

Bencana di Banjarnegara ini menambah panjang daftar kejadian tanah longsor di Jawa Tengah. Catatan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyebutkan bahwa Banjarnegara dan Cilacap menjadi wilayah dengan jumlah korban longsor tertinggi dalam satu dekade terakhir.

Upaya pencarian korban longsor warga Pandanarum masih dilanjutkan menunggu kondisi tanah yang kembali stabil untuk memungkinkan petugas masuk lebih dekat ke titik utama longsoran. (Hasanuddin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button